Jakarta – Kartunet berhasil menjadi salah satu dari dua puluh penerima dana hibah dari cipta media. Pengumuman proposal yang berhasil memperoleh dana hibah dilakukan pada Selasa, 8 November 2011, pukul 11.00, bertempat di Ford Foundation, Sequis Building Lt. 11, Jl. Jendral Sudirman 71, Jakarta. Pengurus Kartunet yang datang pada pengumuman ini adalah Dimas Prasetyo Muharam (ketua KCI). Kartunet memperoleh dana hibah ini dari kategori “Meretas Batas Kebhinekaan Bermedia” dengan judul Kartunet.com: Media Online Sosialisasi dan Pengembangan Komunitas Pemuda dengan Disabilitas, yang informasi lengkapnya dapat dibaca di http://www.ciptamedia.org/2011/11/08/kartunet-com-media-online-sosialisasi-dan-pengembangan-komunitas-pemuda-dengan-disabilitas-3/.
Cipta Media adalah hibah terbuka untuk memunculkan ide baru dan segar dalam praktik bermedia yang mampu membuat perbaikan media di Indonesia. Untuk melaksanakan program ini, cipta media didanai oleh the Ford Foundation serta didukung oleh tiga organisasi yaitu Wikimedia Indonesia, ICT Watch, dan AJI Indonesia. Total dana hibah terbuka ini adalah satu juta US$, atau sekitar 8,5 milyar rupiah.
Pada tahap awal, Cipta Media menerima lebih dari 820 proposal dari seluruh Indonesia yang terbagi dalam empat kategori. Selanjutnya, proposal yang diajukan Kartunet berhasil masuk ke tahap berikutnya, informasi lengkapnya dapat dibaca di http://www.kartunet.com/peluang-kartunet-memperoleh-dana-hibah-semakin-terbuka-706. Pada tahap awal, jumlah dana hibah yang diajukan oleh Kartunet sebesar satu milyar rupiah, namun setelah melakukan konsultasi dengan dewan juri, kartunet merevisi proposal dan dana yang diajukan menjadi 244 juta rupiah. Akhirnya, Kartunet berhasil menjadi salah satu penerima dana hibah Cipta Media dengan jumlah 244 juta rupiah, sesuai dengan total dana yang diajukan dalam proposal.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dewan juri yang telah memilih Kartunet sebagai salah satu penerima dana hibah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung Kartunet selama pembuatan proposal, maupun memberikan dukungan melalui jejaring sosial. Kami berharap dana hibah ini dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan program-program yang telah kami rancang di dalam proposal, sehingga dapat memberi manfaat bagi kemajuan kaum disabilitas, khususnya tunanetra di Indonesia.
Thursday, May 17, 2012
Kartunet Mendapat Hibah Cipta Media Bersama
Pada
9:11 AM
0
Komentar
Label: Prestasi
Peluang Kartunet Memperoleh Dana Hibah Makin Terbuka
Jakarta – Kartunet Community Indonesia (KCI) berhasil masuk dalam 35 besar calon penerima dana hibah Cipta Media Bersama (CMB) dari total 821 proposal melalui dua kategori sekaligus, yaitu pemilihan juri, serta hasil pilihan public (voting) sebesar 2439 suara.
Kartunet mengikuti acara ini untuk mendapatkan dana hibah sejumlah satu milyar rupiah dan akan digunakan untuk melaksanakan program-program yang telah direncanakan. Voating dan penjurian ditutup pada tanggal 21 September, sedangkan pengumumannya dilaksanakan pada press conference tanggal 23 September di The Akmani Hotel, Jl. KH. Wahid Hasyim 91, Jakarta Pusat. Adapun Kartunet adalah satu-satunya pengaju proposal yang terpilih dalam dua kategori yakni pemilihan kualitatif oleh tim seleksi awal dan voting online. Selain itu, Kartunet pula satu-satunya proposal yang mengangkat isu disabilitas yang lolos seleksi tahap awal ini dari banyak proposal lain yang mengangkat isu serupa.
Cipta Media Bersama adalah hibah terbuka yang mengajak individu atau organisasi memunculkan ide baru dan segar dalam praktek bermedia yang mampu membuat perbaikan media di Indonesia. Hibah terbuka ini menyediakan dukungan dana sebesar satu juta dolar AS bagi proposal-proposal yang berhasil terpilih. Kompetisi ini didukung oleh empat lembaga yaitu Ford Foundation, ICT Watch, Asosiasi Jurnalis Independen (AJI), dan Wikimedia Indonesia.
Dalam proposal yang diajukan, ide yang digagas oleh kartunet adalah “Kartunet.com: Media Online Sosialisasi dan Pengembangan Komunitas Pemuda dengan Disabilitas”, adapun rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh kartunet adalah Kartunet Spirit Home, Kartunet Citizen Media, Kartunet on Campaign, Kartunet on Network, Kartunet on Radio, serta Kartunet Groups. Pada pemilihan juri, kartunet masuk dalam nominasi calon penerima dana hibah melalui topic meretas batas – kebhinekaan bermedia, sedangkan dalam voating, kartunet menduduki peringkat keempat dengan jumlah 2439 suara. Dewan juri pada tahap seleksi awal ini adalah Adyani Hapsari Widyowati, Donny B.U., Heidi Arbuckle, Irfan Toni Herlambang, Margiyono, Siska Doviana, serta Yan Aryanto.
Setelah pengumuman ini, proposal Kartunet masuk dalam tahap konsultasi dan perbaikan ide proposal serta anggaran dengan tim seleksi awal sampai tanggal 12 Oktober. Selanjutnya ketetapan akhir dana hibah proposal akan ditentukan oleh tim juri tetap yang terdiri dari Anggara (praktisi hukum), Johar Alam Rangkuti (Pendiri Internet Data Center), Merlyna Lim (Peneliti di Arizona State University), Nia Dinata (Sutradara dan produser film), Onno W Purbo (pakar teknologi informasi), Wimar Witoelar (tokoh media), Shinta Dhanuwardhoyo (pendiri bubu.com), Yanuar Nugroho (peneliti inovasi teknologi), dan Yoris Sebastian (pakar bisnis kreatif). Pengumuman seleksi tahap akhir akan disampaikan oleh panitia pada press conference tanggal 4 November.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dewan juri yang telah memilih proposal yang kami ajukan untuk masuk ke tahap berikutnya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh simpatisan dan pendukung kartunet, yang telah mendukung perjuangan kami dengan ikut berpartisipasi memilih kartunet sehingga kami masuk ke dalam lima besar jumlah voaters terbanyak. Terpilihnya kami dalam dua kategori ini membuat kami semakin bersyukur bahwa ide kami dapat diterima oleh tim juri seleksi yang berwawasan luas dan sekaligus mendapat dukungan besar dari masyarakat yang ingin melihat Indonesia lebih ramah pada penyandang disabilitas.
Selama masa voting yang ditutup pada 21 September lalu, Kartunet membuat kuis kecil dalam rangka memeriahkan kompetisi yaitu kuis komentar terunik dan inspiratif di kolom komentar halaman voting Kartunet.com di situs ciptamedia.org. Ada hadiah pulsa dengan total nominal Rp 100.000,00 yang diraih oleh dua orang simpatisan Kartunet.com yaitu M. Irfan Priadi (Bandung) dan Eka Prathiwie Taufanty (Brebes). Selamat untuk pemenang kuis komentar dan terima kasih untuk saran, masukan, dan apresiasi kepada kami.
Pada
9:07 AM
0
Komentar
Label: Prestasi
Kartunet Menyabet Dua Penghargaan Internet Sehat
Jakarta-Setelah sukses mengadakan acara buka puasa bersama sekaligus peringatan hud RI yang ke 66 pada tanggal 21 agustus 2011 di kantor detik.com di Jl. Warung Buncit Raya, Aldevco Octagon Building - Lantai 2, Jakarta Selatan, kini kartunet telah meraih dua penghargaan dari internet sehat yaitu masing-masing berjenis bronze dan silver.
Pihak internet sehat mengatakan bahwa kartunet layak untuk diberikan penghargaan tersebut karena kartunet dianggap sebagai media online yang dipandang unik dari media online pada umumnya karena dibuat oleh para tunanetra yang ternyata telah menguasai dunia IT dan blog.
mereka merasa bangga dan salut terhadap team kartunet yang meski memiliki keterbatasan tapi terus berusaha untuk menghilangkan segala hambatan yang dihadapi. Ada pun penghargaan tersebut, diterima langsung oleh Dimas Prasetyo Muharam (direktur dari kartunet) yang di mana bingkisan penghargaan tersebut langsung dikirimkan ke rumah beliau, berupa kaos bertuliskan promo internet sehat, CD cara berinternet yang sehat, serta voucher xl 100.000,00
Seluruh staff Kartunet berharap, bahwa kedua penghargaan dari internet sehat tersebut akan berpengaruh bagi langkah kartunet ke depan untuk terus menjadi media terdepan bagi para penyandang disabilitas di Indonesia. Kartunet pun banyak mengucapkan terimakasih atas segala dukungan yang telah diberikan oleh team media online lainnya yang terus mendukung eksistensi kartunet khususnya dari internet sehat yang telah mendukung kartunet secara penuh.
Saat ini kartunet terus berupaya untuk merebut dua penghargaan lainnya dari internet sehat yaitu gold dan platinum, dengan terus memberikan karya-karyanya yang terbaik. Semoga kartunet tetap terus berakselerasi dalam mensosialisasikan para penyandang disabilitas melalui media online.
Pada
9:03 AM
0
Komentar
Label: Prestasi
Teknologi bagi tunanetra
Teknologi bagi Tunanetra
Oleh Dimas Prasetyo Muharam
Salah satu admin kartunet.com
Email : dimas@kartunet.com
Mungkin kita masih tidak percaya ketika mendengar bahwa tunanetra bisa mengoperasikan komputer atau bahkan berselancar di belantara internet. Tapi pada kenyataannya, semua hal tersebut sudah terjadi. Para tunanetra dengan bantuan teknologi maju sudah bisa mengoperasikan komputer. Baik itu operating system windows, program microsoft office, atau hanya sekedar memutar musik berformat mp3 yang tersimpan di hardisk komputer.
Teknologi bagi tunanetra ini dengan sendirinya telah membantu proses pengwujudan masyarakat yang inklusif. Paradikma masyarakat mulai terbuka dan sadar bahwa tunanetra bukan hanya tukang pijit, pemain alat musik, atau peminta-minta. Tapi sekarang masyarakat tahu bahwa ada yang bisa mengoperasikan komputer, melakukan tugas tulis menulis, membuat musik melalui keyboard dan komputer, menjadi penerjemah bahasa, dan lain-lain.
Bukti nyata bahwa tunanetra bisa mengoperasikan komputer, berselancar di internet, atau bahkan membuat website sendiri adalah situs kartunet.com. Situs yang beralamat di http://www.kartunet.com ini merupakan website yang benar-benar karya tunanetra. Kartunet itu sendiri adalah singkatan dari “karya Tunanetra”. Di dirikan oleh empat orang penggagas yaitu Irawan Mulyanto, Dimas Prasetyo M, Ikhwan Toriqo, dan Aris Yohanes, website ini bertujuan untuk mensosialisasikan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh para tunanetra. Dalam website ini terdapat berbagai karya sastra, baik itu yang ditulis sendiri oleh para tunanetra atau masyarakat umum pengunjung situs kartunet.com. Di dalamnya juga terdapat beberapa fasilitas lain yang bisa diakses oleh semua orang seperti forum diskusi, halaman curhat, buku tamu, game sederhana, dan ramalan bintang. Website ini bukan hanya bisa dinikmati secara audio oleh tunanetra melalui software yang akan dijelaskan dibawa ini, tetapi juga oleh orang normal kebanyakan yang menggunakan metode visual. Pada intinya, situs kartunet.com ini adalah wadah tempat berkreasi bagi para tunanetra yang diperuntukan bagi tunanetra dan juga semua kalangan.
Dari fakta di atas, mungkin anda masih bingung, bagaimana para tunanetra ini bisa membuat website tanpa anda mengetahui bagaimana keadaan komputer yang dipergunakan oleh mereka. Komputer accessible bagi tunanetra yang kemudian disebut komputer bicara ini adalah sebuah PC atau Laptop standard. Tak ada bedanya dengan yang mungkin anda gunakan sekarang. Tapi ada sebuah software yang harus diinstall terlebih dahulu dalam komputer tersebut sehingga bisa dipergunakan oleh seorang tunanetra. Program ini untuk selanjutnya disebut program pembaca layar atau Screen reader. Sebagai contoh salah satu merek dari program ini adalah JAWS yang merupakan singkatan dari Job Access with Speech yang bisa anda lihat info lebih lengkapnya di homepagenya di alamat http://www.freedomscientific.com. Prinsip kerja dari program pembaca layar adalah memperoses tulisan atau teks yang muncul di layar untuk kemudian direproduksi dalam bentuk suara yang bisa didengar oleh seseorang melalui headset atau loud speaker. Untuk program jaws misalnya, ia masih menggunakan sistem speling dan pronunciation bahasa inggris, jadi sebuah teks dalam bahasa apapun, akan dieja dalam bahasa inggris. Tapi perlu ditekankan, bukan diterjemahkan dalam bahasa Inggris, hanya dibaca dengan dialeg Inggris. Jadi pada intinya, semua yang muncul dan tertulis dilayar, dapat dibaca oleh tunanetra dengan mendengarkan suara yang membacakan lafal dari teks tersebut. Hanya teks yang dapat dibaca, tidak bisa buat gambar atau grafik. Singkat cerita, mekanisme ini seperti seorang pembaca pribadi bagi tunanetra yang terdapat dalam sebuah komputer.
Selain dipergunakan untuk mengetik dan mengolah data, tunanetra juga bisa membaca buku atau naskah dalam format tulisan awas (istilah untuk tulisan biasa) melalui komputer bicara ini. Dengan bantuan alat yang disebut scanner, tunanetra bisa dengan mandiri membaca naskah awas tanpa perlu dibacakan lagi oleh orang normal. Sehingga pekerjaan membaca buku yang sebelumnya harus dalam bentuk tulisan braille atau direkam dalam kaset atau CD dapat dipersingkat dengan langsung membacanya melalui komputer.
Walaupun membaca buku melalui komputer sudah memungkinkan, tapi media buku bicara masih efektif untuk dipergunakan. Media ini disebut buku bicara karena teknik pembuatannya adalah dengan merekam suara pembacaan sebuah buku oleh seseorang yang disimpan dalam bentuk kaset atau digital CD. Sehingga jika seseorang memutar kaset atau CD tersebut, maka akan terdengar suara seseorang membaca buku yang kemudian disebut buku bicara.
Buku bicara ini pada umumnya lebih digemari oleh tunanetra. Karena dapat lebih dimengerti dengan adanya intonasi dan ekspresi dari pembaca buku bicara. Sejauh pengetahuan penulis, produksi buku bicara ini baru dilakukan oleh Yayasan Mitra Netra yang bergerak dibidang pendidikan dan rehabilitasi tunanetra. Buku bicara ini pada awalnya diproduksi dalam bentuk kaset, kemudian Yayasan Mitra Netra sudah mulai memproduksi dalam bentuk digital CD yang lebih praktis. Tapi sekarang juga sudah diproduksi dalam bentuk ebook halaman-halaman HTML. Yang bisa diakses melalui program internet browser.
Kemudian mungkin anda juga ingin tahu, apakah tunanetra bisa mengakses telepon genggam yang populer disebut handphone. Kita semua mengetahui bahwa telepon genggam khususnya untuk tipe-tipe terbaru memiliki feature dan menu-menu yang rumit. Tapi ternyata, handphone tersebut pun bisa diakses oleh tunanetra. Mekanismenya sama seperti komputer yang menggunakan screen reader atau pembaca layar. Handphone terlebih dahulu diinstall program yang disebut talks. Program ini berjalan pada handphone yang berbasis operating system symbian. Jadi program sscreen reader yang sudah terinstall, akan membacakan menu-menu dan perintah-perintah yang terdapat dalam handphone. Program ini sangat membantu bagi tunanetra terutama dalam membaca dan menulis sms. Sehingga tunanetra juga memiliki privasi dalam hal tersebut. Tidak perlu lagi meminta orang awas (sebutan untuk orang normal) membacakan isi sms yang kemungkinan tidak ingin isinya diketahui oleh orang lain.
Semua teknologi yang sudah penulis sebutkan di atas, sangatlah membantu sekali bagi tunanetra. Mereka bisa mengfungsikan kembali kemampuan administrasi atau tulis menulis yang sebelumnya sangat sulit dilakukan secara mandiri. Tapi sayangnya, hal-hal tersebut belum tersosialisasi dengan baik dalam masyarakat. Mereka masih menganggap instalasi teknologi bagi tunanetra membutuhkan biaya yang sangat mahal. Walaupun penulis juga akui instalasi teknologi bagi tunanetra cukup mahal, tapi manfaat yang dihasilkan jauh lebih besar jika dibandingan dengan harganya.
Penulis menginginkan setiap warnet memiliki minimal dua komputer bicara yang bisa diakses oleh tunanetra. Sehingga tunanetra yang tidak memiliki komputer di rumah, bisa mengakses teknologi dan informasi yang serupa lewat warnet. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu sulit untuk direalisasikan. Harga program pembaca layar sekitar 250USD. Tapi juga tersedia versi trial yang bisa dipasang gratis tanpa biaya.
Perpustakaan juga akan menjadi aksesibel jika menyediakan buku-buku dalam versi tulisan braille atau buku bicara. Sebelumnya, tunanetra menganggap perpustakaan adalah tempat yang tak bisa diakses. Tapi jika tersedia buku braille dan buku bicara, maka mereka juga bisa membaca buku langsung di perpustakaan atau meminjamnya untuk dibaca di luar perpustakaan. Selain itu bisa juga perpustakaan tidak perlu menyediakan buku braille atau bicara, tetapi cukup komputer bicara yang akses katalog atau tulisan braille yang memuat informasi buku-buku apa saja yang tersedia di perpustakaan tersebut. Sehingga tunanetra tidak perlu meminta pertolongan orang awas untuk mencari buku dan membacakan katalog.
Teknologi bagi tunanetra memang sangat bermanfaat. Hal ini bisa memberikan hak-hak tunanetra yang sama dengan orang lainnya. Jangan pernah jadikan tunanetra dan penyandang cacat yang lainnya sebagai beban, tapi izinkan pula mereka dalam peran serta menyukseskan pembangunan bangsa. Penulis berharap teknologi ini bisa cepat tersosialisasikan dalam masyarakat. Sehingga bisa melahirkan ahli-ahli ilmu pengetahuan berikutnya yang berasal dari kaum penyandang cacat. Karena mereka juga warga negara yang memiliki hak dan kewajiban untuk memajukan kehidupan bangsa. (DPM)
*Tulisan pernah dipublikasikan di rubrik Halaman Muda harian Media Indonesia tahun 2008
Pada
8:51 AM
0
Komentar
Label: Kliping
Mewujudkan Masyarakat Indonesia Inklusif
Mewujudkan masyarakat Indonesia yang Inklusif
Oleh Dimas Prasetyo Muharam
Salah satu admin Kartunet.com
E-mail : dimas@kartunet.com
Di era yang sudah serba transparan ini, penyebaran informasi sudah tidak terbatas lagi. Berbagai ilmu pengetahuan dan unsur-unsur kebudayaan tersebar cepat. Abad 20 yang lebih berorientasi ke barat, tak elak mendifusi baik pengaruh negatif atau positif. Dalam pengaruh positif tersebut yang sangat berguna bagi kehidupan umat manusia adalah kebebasan, persaudaraan, dan persamaan derajat. Nilai-nilai tersebut makin banyak dianut oleh orang-orang yang berfikiran moderen. Mereka menghargai kemerdekaan untuk hidup, berpendapat, dan memiliki sesuatu. Pengaruh lainya adalah pengakuan bahwa setiap manusia itu sama. Tak dibedakan atas warna kulit, suku, agama, atau bahkan kecacatan fisik.
Penyandang cacat jika dilihat memang tampak berbeda, tak berdaya, dan patut dikasihani. Tapi sebenarnya anggapan masyarakat ini salah. Anggapan seperti itu malah akan membuat masyarakat menjauh atau merasa enggan untuk berinteraksi dengan para penyandang cacat. Sehingga mempersulit terwujudnya masyarakat yang inklusif.
Penyandang cacat ini terdiri dari para Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa, dan lain-lain. Walaupun mereka secara sekilas dapat diidentifikasi tidak bisa melihat, mendengar, atau berjalan misalnya, tapi jika ada cara alternatif, mereka dapat melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan orang normal sekalipun. Oleh Karena Itu, muncul istilah difabel yang diserap dari kata diffable yang juga merupakan singkatan dari Different Ability. Jadi di sini maksudnya, mereka dapat mengerjakan apa yang dianggap masyarakat umum tidak bisa lakukan, asal ada sarana atau alat Bantu yang sesuai. Seperti contoh para tunanetra. Fungsi mereka untuk melihat mungkin hilang atau berkurang. Tapi mereka dengan alat-alat khusus, bisa membaca buku teks yang sebelumnya dikira tidak mungkin oleh anggapan orang awam. Dengan bantuan huruf braille dan kaset rekaman, tunanetra bisa mengetahui isi dari sebuah buku teks. Bahkan sekarang tunanetra bisa mengakses komputer yang dilengkapi dengan program pembaca layar atau screen reader. Dengan bantuan komputer yang kemudian disebut komputer bicara dan alat yang disebut scanner, tunanetra bisa membaca buku langsung melalui komputer tanpa perlu dicetak terlebih dahulu dalam bentuk tulisan braille.
Setelah mengetahui bahwa para penyandang cacat ini bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh orang normal, mereka menginginkan persamaan hak dalam masyarakat. Mereka merasa bukan lagi sebagai orang yang tersisih atau malah menjadi beban, tapi mereka mampu untuk mengkontribusikan potensi yang mereka miliki untuk sama-sama turut serta aktif dalam proses pembangunan bangsa. Mereka tidak ingin perlakuan istimewa. Perlakuan yang dianggap oleh orang normal baik untuk mereka tapi sejatinya menjauhkan para penyandang cacat ini dari masyarakat umum. Persamaan hak adalah hal yang mereka ingini. Diberi persamaan dalam hak untuk memperoleh pekerjaan, hak dalam memperoleh pendidikan, hak dalam bidang ekonomi, dan lain-lain.
Inilah keadaan yang dinamakan keadaan masyarakat inklusi. Inklusi memiliki makna terbuka. Maksudnya adalah masyarakat yang terbuka bagi para penyandang cacat dan para penyandang cacat yang terbuka bagi masyarakat. Keadaan ini dimana para penyandang cacat sesuai dengan potensi mereka ada dalam sektor-sektor pekerjaan masyarakat. Jadi masyarakat tidak aneh lagi ketika melihat ada seorang penyandang cacat yang bekerja di bagian administrasi sebuah kantor misalnya.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, pengwujudan masyarakat inklusif sudah dirintis dengan adanya sekolah-sekolah umum yang menerima siswa berkebutuhan khusus. Siswa berkebutuhan khusus ini adalah istilah untuk siswa yang memiliki cacat fisik tetapi secara intelektual dapat mengikuti pendidikan di sekolah umum. Oleh karena itu mereka membutuhkan beberapa fasilitas khusus untuk bisa belajar dan mengikuti pelajaran di kelas bersama siswa-siswa normal lainnya. Sekolah umum yang menerima siswa berkebutuhan khusus ini disebut sekolah terpadu. Hal ini karena sekolah tersebut memadukan siswa berkebutuhan khusus dalam kelas yang sebagian besar bersiswakan siswa normal. Tetapi istilah ini sekarang berubah menjadi sekolah inklusif agar lebih tegas bahwa sekolah umum itu terbuka bagi siapa saja termasuk para penyandang cacat.
Sekolah-sekolah inklusif ini harus memiliki guru-guru yang sudah mengerti bagaimana mengajar pada anak didiknya yang berkebutuhan khusus. Bagaimana cara menerangkan di kelas, sehingga selain murid normal yang faham, siswa berkebutuhan khusus juga bisa mengerti dengan penjelasan dari guru. Kemudian juga bagaimana teknik dalam menerangkan pelajaran ilmu alam dan matematika kepada siswa berkebutuhan khusus. Karena mata pelajaran tersebut pada umumnya butuh perhatian yang lebih dari biasanya. Mungkin dengan kesabaran dari guru dan fasilitas tambahan seperti alat peraga, siswa berkebutuhan khusus bisa mengerti pelajaran ilmu alam dan matematika sebaik siswa normal lainnya. Tapi sebaik apapun guru dan sekolah tempat siswa berkebutuhan khusus itu belajar, hal yang terpenting adalah kesadaran dari siswa itu sendiri. Mereka harus bisa menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Harus aktif dan banyak bertanya jika mengalami kesulitan. Kemudian mencoba berdiskusi dengan guru jika guru menemui kesulitan dalam menerangkan sesuatu kepada mereka.
Dalam pergaulan di sekolah atau masyarakat umum, para penyandang cacat juga harus terbuka. Mereka jangan pernah merasa minder dengan keadaan mereka. Karena sejauh pengamatan penulis, jika si penyandang cacat itu menutup diri mereka, maka masyarakat umum juga akan menjauh atau tak berani mendekati mereka. Orang awam beranggapan jika mereka mendekati para penyandang cacat, takut jika mereka tersinggung atau tidak suka bergaul. Tapi jika para penyandang cacat membuka diri mereka dan mencoba untuk berinteraksi dengan orang normal, maka masyarakat akan dapat menerima dan akan sangat bermanfaat bagi kebutuhan sosialisasi bagi para penyandang cacat.
Di bidang lapangan pekerjaan, keadaan yang inklusif masih dalam kadar yang sedikit. Paradikma masyarakat kepada seorang tunanetra misalnya, hanya melulu pada bidang pekerjaan sebagai tukang pijit atau seorang musisi. Tapi pandangan ini sedikit demi sedikit berubah dengan mulai banyak tunanetra yang menempati posisi-posisi yang biasa dilakukan orang normal. Seperti sudah ada yang bekerja sebagai operator telepon, translater bahasa, dan lain-lain. Bahkan pekerjaan arrangement musik saat ini dengan bantuan teknologi tunanetra dapat mengerjakannya melalui komputer. Bagaimanapun juga, keadaan ini masih jauh dari harapan terwujudnya masyarakat yang inklusif. Para penyandang cacat masih sedikit yang menempati posisi-posisi penting dalam sebuah hirarki kerja. Mereka dianggap tidak mampu dan dapat merugikan perusahaan pada nantinya. Padahal dengan bantuan teknologi yang sudah maju, para penyandang cacat ini dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut asal ada latihan dan usaha terpadu dari si penyandang cacat dan pihak perusahaan.
Pemerintah dalam hal pekerjaan dan persamaan hak sudah turut serta aktif. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya undang-undang no 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat. Di sana dijelaskan definisi persamaan hak, aksesibilitas bagi penyandang cacat, dan persamaan hak serta kewajiban dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. Ada sangsi administratif bagi perusahaan yang tidak memberikan persamaan hak bagi para penyandang cacat. Walaupun peraturan ini sudah cukup baik, tapi pelaksanaannya masih belum optimal. Masih banyak terjadi diskriminasi bagi para penyandang cacat di bidang pekerjaan.
Keadaan masyarakat yang inklusif ini, tidak akan bisa terwujud jika tidak ada kerjasama antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, para penyandang cacat, dan lembaga-lembaga lain yang terkait. Dibutuhkan kerjasama dan saling berkontribusi di dalamnya. Sosialisasi melalui berbagai media juga sangat diperlukan dalam mempercepat proses realisasi masyarakat yang inklusif. Seperti dengan adanya website http://www.kartunet.com Website ini dibuat oleh para tunanetra dan bertujuan untuk mensosialisasikan potensi yang dimiliki oleh para penyandang cacat. Jadi, jangan pernah lelah untuk mewujudkan masyarakat inklusif yang akan menjadikan kehidupan sesama manusia menjadi lebih baik. Baik bagi masyarakat, dan akan lebih baik lagi bagi para penyandang cacat. (DPM)
*Tulisan pernah diterbitkan pada rubrik Halaman Muda harian Media Indonesia tahun 2008
Pada
8:46 AM
0
Komentar
Label: Kliping