Disabilitas Bukan Berarti Berbeda
Oleh : Ni Putu Dessy Wulandari
Jari-jemari terlihat lincah menari di atas keyboard laptop, sembari telinga santun menyimak suara yang terdengar bunyi dari speaker. Namun bila diperhatikan lebih seksama, ada satu hal yang tidak biasa. Kegiatan itu dilakukan tanpa melihat. Ya, mereka kaum penyandang disabilitas indera pengelihatan, mensyukuri hidup dengan perjuangan. Satu diantaranya adalah Andira.
Andira Pramatyasari (19) sudah mengalami kebutaan sejak ia masih kecil. Walau demikian, keterbatasan itu tidak menjadikannya enggan untuk hidup seperti orang normal. Terbukti saat ini, Andira sedang mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Indonesia sebagai mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2009.
Kuliah bukan satu-satunya kegiatan yang dilakukannya. Andira pun aktif bergabung dengan sebuah komunitas bernama Kartunet. “Aku sudah bergabung sejak tahun 2010. Alasannya karena di Kartunet bisa mengembangkan potensi dan juga menambah teman,” kata Andira yang kini menjabat sebagai Direktur DepartemenMedia dan Relasi Kartunet. Bukan hanya mendapatkan teman-teman baru, Andira juga memperoleh banyak pengalaman di Kartunet. “Dari segi teknologi banyak terjadi peningkatan dan optimalisasi, walaupun sebelum bergabung sudah mengenalnya. Selain itu, Kartunet juga sering diundang pelatihan, jadi dari sana aku juga dapet tambahan pengetahuan,” tutur Andira.
Optimalisasi teknologi juga dirasakan oleh Senna Rusli (16), anggota Kartunet lainnya. Senna tidak bisa melihat sejak umur dua tahun. Semenjak itu, siswa kelas 2 SMA Negeri 66 Jakarta ini mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari orang-orang sekitarnya. “Iya dulu kalau masih kecil sering diejek dan sempat tiga kali berhenti sekolah,” tuturnya. Namun, hambatan itu tidak menjadikan Senna berhenti meraih pendidikan. Berkat bantuan rekomendasi guru sekolahnya, Senna mengikuti program akselerasi hingga bisa menjadi siswa SMA dengan umur yang normal. Tekad kuat untuk mengembangkan potensi yang ia miliki kemudian dikembangkannya lewat Kartunet. Senna yang punya hobi menulis tersebut bergabung sejak 2011. Hobinya pun dapat tersalurkan dengan baik. Senna rutin menulis di situs Kartunet. Selain itu, Senna juga menjadi penyiar di radio streaming Kartunet. “ Di radio Kartunet, saya bawain program kedai penulis,” kata Senna. Banyak hal baru yang Ia dapatkan selama bergabung di Kartunet. Bukan hanya mengembangkan potensinya dalam menulis, tetapi juga dalam teknologi. “Kalau teknologi lumayanlah, karena dulu saya tahu sms saja. Kalau disini bisa belajar menggunakan twitter, skype sampai radio streaming,” katanya.
Kartunet, Terobosan Komunitas Kaya Ilmu
Karya Tunanetra (Kartunet) adalah sebuah komunitas penyandang disabilitas yang didirikan pada tahun 2006 oleh Dimas Prasetyo Muharam bersama tiga temannya (Irawan Mulyanto, Aris Yohanes, M. Ikhwan Toriqo) dan resmi berbadan hukum pada tahun 2012 dengan nama Kartunet Foundation. Keempat orang tersebut adalah tunanetra yang memiliki visi yang sama untuk mengusahakan masa depan yang lebih baik bagi penyandang disabilitas. Komunitas ini beralamat di Jalan Pepaya V No.60 RT/RW 003/005 Jagakarsa, Jakarta. Berbekal dengan pembuatan situs, Dimas ingin menunjukkan kemampuan mereka yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat.“Tunanetra dianggap hanya bisa menjadi tukang pijat atau pemusik saja. Padahal sebenarnya mereka punya bakat yang sama seperti orang-orang pada umumnya, tetapi karena keterbatasan itu sendiri akhirnya mereka tidak bisa mengembangkan potensi itu,” tutur Dimas yang kini menjabat sebagai Ketua Kartunet.
Dengan bantuan teknologi, potensi-potensi anggota Kartunet dapat tersalurkan, salah satunya menulis. “Menulis juga dapat dijadikan alat untuk mengemukakan pikiran dan suara mereka. Mereka ingin seperti apa, ingin masyarakat seperti apa,” kata lulusan sastra inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini. Melalui sebuah software bernama screen reader (sebuah aplikasi komputer yang berguna untuk membaca layar,sehingga apa yang kita tulis akan dikonversi ke dalam suara), menulis pun tidak menjadi hal yang sulit dilakukan. Alhasil, tulisan-tulisan hasil karya anggota Kartunet yang mengangkat isu disabilitas atau penyandang disabilitas dapat dinikmati di situs Kartunet. Setidaknya, setiap minggu terdapat 10 sampai 15 tulisan yang dimuat. Tulisan-tulisan tersebut berupa rubrik opini, Insiprasi, Info Disabilitas, Buletin Mata, Editorial, Bakmi Cerpen, Satai Puisi, Cerlu Golek, Cerbang Manalagi, Diary Kaktus, Lab Tekno dan berita.
Saat ini jumlah anggota komunitas yang mempunyai moto mengatasi keterbatasan tanpa batas ini berasal dari seluruh wilayah Indonesia.“Mereka diminta mendaftar di situs kita atau gabung di grup facebook. Kalau dari data pengamatan selama ini, sudah ada seribu orang yang gabung,” ungkapnya. Dimas menjelaskan para anggota tersebut belum resmi karena masih dalam pendataan. Uniknya anggota Kartunet tidak hanya berasal dari penyandang disabilitas saja, tetapi juga masyarakat non-disabilitas. Kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini sebagian diarahkan untuk penyandang disabilitas. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk anggota non disabilitas, karena anggota non-disabilitas pun dapat memuat tulisannya di situs Kartunet. Namun untuk berita, kata Dimas dibuat khusus oleh penyandang disabilitas. “Mereka yang meliput, bisa lewat telepon,” ujar Dimas.
Kegiatan yang dilakukan oleh anggota Kartunet tidak sebatas menghimpun tulisan sebagai citizen media saja. Dimas mengatakan Kartunet sudah memiliki radio komunitas streaming yang baru beroperasi tahun ini. Penyiarnya adalah para penyandang disabilitas yang membawakan program-program antara lain Self-Dev Talkshow, Numpang Siaran, BBM Show, Bengkel Tekno, Berdikari Show, Export On Air, Indinet On Air. “Radio ini bisa dinikmati oleh teman-teman disabilitas yang berada di seluruh wilayah Indonesia. Kita pakainya radio streaming agar mudah diakses,” kata Dimas. Selain itu, Kartunet juga rajin mengadakan pelatihan baik menulis maupun pelatihan penyiar yang dilakukan di kantor Kartunet. Bukan hanya pelatihan, sederet program-program pun rutin dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat luas antara lain Gebyar Sastra Kartunet (GSK), Ajang Kreasi dan Inovasi Tekonologi Aksesibel (AKITA), Buku Kartunet Karya Menginspirasi, Kontes Blogging Semi SEO dan Karmagz e-magazine.
Jumlah anggota Kartunet yang sebagian besar anak muda, terkadang menjadi hambatan. Kendati demikian, Dimas menjadikan hal tersebut sebagai sebuah tantangan. “Namanya juga anak muda, kalau kata orang-orang labil. Tetapi sama-sama belajarlah,” katanya
Dalam Kartunet ini, pada dasarnya Dimas ingin penyandang disabilitas dapat mengembangkan potensi-potensi mereka sehingga bisa berkembang. “Kalau suka musik, bisa kembangkan disini. Nanti mereka yang suka musik bisa belajar bagaimana membuat musik dengan software. Atau kalau ingin bisnis, nanti kita bisa belajar bareng bagaimana berbisnis menggunakan marketing via online. Jadi memang kita memanfaatkan teknologi informasi,” kata Dimas.
Meski beberapa target sudah tercapai, Dimas tidak lantas berpuas diri. “Parameter yang bisa membuat saya bahagia disini adalah bagaimana Kartunet bisa bermanfaat, khususnya anak muda, karena merekalah calon pemimpin masa depan,” ujarnya. Ia juga ingin menjadikan Kartunet sebagai komunitas yang mempunyai peranan kuat di masyarakat. Sebab, selama ini pandangan masyarakat beranggapan bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang lemah dan harus disantuni dan dikasihani. “Jadi untuk mengubahnya kita harus mengubah paradigma dulu, bahwa kita sebagai penyandang disabilitas bukan hanya menerima, tetapi juga untuk memberi. Kita tidak bisa menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban,” katanya bijak.
Kemandirian penyandang disabilitas di Kartunet sendiri mendapat pujian dari Rohimah (40) ,pegawai kantor Kartunet. “Saya salut dengan anak-anak ini. Meski memiliki keterbatasan, tapi bisa menghasilkan karya-karya yang hebat. Jadi, mereka punya tanggung jawab masing-masing, tidak tergantung sama kita,” ujar Rohimah dengan mata berkaca-kaca.
Hanya Butuh Peralatan yang Lebih
Baik Andira maupun Senna sama-sama mengharapkan penyandang disabilitas lain agar terus mengoptimalkan potensi mereka. “Kalau tahu mereka punya kemampuan apa, nanti bisa dikembangkan bersama. Agar nantinya bisa mengoptimalkan potensi yang mereka punya,” kata Andira. Keberadaan Kartunet menjadi terobosan baru bagi penyandang disabilitas dan sebagai media untuk berekspresi. Melalui konten-konten yang dihadirkannya, Senna berharap masyarakat bisa menghargai bahwa ternyata penyandang disabilitas juga punya kemampuan. “Jadi sebenarnya tidak ada perbedaan terlalu mencolok antara orang normal dengan penyandang disabilitas. Hanya saja kita butuh peralatan yang lebih dari mereka. Dari segi kemampuan hampir sama. Masyarakat bisa masak nasi, tunanetra juga bisa,” kata Senna.
Penulis :
Ni Putu Dessy Wulandari
Mahasiswa Peminatan Jurnalisme
Jurusan Ilmu Komunikasi
FISIP, Universitas Indonesia
Diterbitkan oleh harian Radar Depok pada Minggu, 27 Mei 2012
Friday, July 06, 2012
DISABILITAS BUKAN BERARTI BERBEDA
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment