Friday, December 07, 2012

Kartunet yang Bikin "Melek" Internet

Artikel diterbitkan di harian Kompas, 6 Desember 2012 halaman 14.
 Diawali dengan uang pemberian nenek dan uang patungan di tahun 2006, anak-anak muda dengan disabilitas netra membuat jaringan komunitas Kartunet. Kini, komunitas itu jadi oase ilmu bagi para penyandang disabilitas.


Klik saja Kartunet.com, maka berbagai tulisan mulai dari yang sifatnya informatif, seni, hingga tulisan kritis akan muncul di laman itu. Video tentang cara belajar internet bagi para tunanetra pun ada di link Youtube.
Kegiatan di Kartunet dikendalikan dari sebuah rumah mungil di Jalan Pepaya V, di belakang Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Di rumah itu para pemuda dengan disabilitas netra datang untuk belajar, mulai dari mengetik 10 jari, berinternet, hingga menulis di blog.
Penggagasnya adalah Irawan Mulyanto (25), Aris Yohanes (25), M Ikhwan Tariqo (24), dan Dimas P Muharam (24). Mereka mengawali pendirian Kartunet dari ngeblog iseng ke aktivitas ngeblog yang menyuarakan karya mereka.
”Sesuai namanya, Kartunet alias Karya Tuna Netra, ditujukan bagi masyarakat umum untuk memublikasikan kreasi dari penyandang lintas disabilitas,” kata Dimas yang juga penyandang disabilitas netra.
Munculnya Kartunet tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi dan semangat belajar mereka. Saat mengenal internet dan program screen reader (pembaca teks) di komputer tahun 2005, mereka belajar banyak tentang dunia teknologi informasi. Dulu mereka membuat blog dengan membuat program sendiri. Mereka belajar melakukan itu dari internet dengan bantuan screen reader.
Setelah bisa ngeblog, mereka membeli domain seharga Rp 250.000 setahun dengan uang patungan ditambah sumbangan nenek Riqo. Awalnya hanya teman-teman dekat yang mengakses, kini blog itu dikenal luas.
Kartunet unik karena merupakan sedikit dari domain yang dibuat para penyandang disabilitas netra. Di laman itu kita bisa membaca tulisan para penyandang disabilitas yang sangat mengikuti perkembangan teknologi, politik, hingga sastra.
Siapa pun boleh datang ke markas Kartunet, mengunggah di laman Kartunet tanpa dipungut biaya.
Karier baru
Dengan teknologi informasi yang mereka pelajari, anak-anak muda penyandang disabilitas netra kini punya pilihan karier lebih luas. Jika dulu hanya diarahkan menjadi tenaga fisioterapi dan seniman, kini mereka bisa menjadi penulis, pemrogram teknologi informasi, tenaga telemarketing, bahkan membuka usaha online.
Salah satu penyandang disabilitas netra, Oge, kini belajar teknologi informasi di Kartunet. Ia ingin membuka bisnis online.
Riqo dengan kemampuan komputer kini menjadi tenaga telemarketing. ”Tinggal klik data di komputer dan angkat telepon,” katanya.
Saat ini, di rumah Kartunet, yang hanya memiliki lima komputer, para pemuda penyandang disabilitas belajar untuk membentangkan masa depan lebih lebar.
 

Friday, July 06, 2012

DISABILITAS BUKAN BERARTI BERBEDA

Disabilitas Bukan Berarti Berbeda
Oleh : Ni Putu Dessy Wulandari

Jari-jemari terlihat lincah menari di atas keyboard laptop, sembari telinga santun menyimak suara yang terdengar bunyi dari speaker. Namun bila diperhatikan lebih seksama, ada satu hal yang tidak biasa. Kegiatan itu dilakukan tanpa melihat. Ya, mereka kaum penyandang disabilitas indera pengelihatan, mensyukuri hidup dengan perjuangan. Satu diantaranya adalah Andira.

Andira Pramatyasari (19) sudah mengalami kebutaan sejak ia masih kecil. Walau demikian, keterbatasan itu tidak menjadikannya enggan untuk hidup seperti orang normal. Terbukti saat ini, Andira sedang mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Indonesia sebagai mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2009.

Kuliah bukan satu-satunya kegiatan yang dilakukannya. Andira pun aktif bergabung dengan sebuah komunitas bernama Kartunet. “Aku sudah bergabung sejak tahun 2010. Alasannya karena di Kartunet bisa mengembangkan potensi dan juga menambah teman,” kata Andira yang kini menjabat sebagai Direktur DepartemenMedia dan Relasi Kartunet. Bukan hanya mendapatkan teman-teman baru, Andira juga memperoleh banyak pengalaman di Kartunet. “Dari segi teknologi banyak terjadi peningkatan dan optimalisasi, walaupun sebelum bergabung sudah mengenalnya. Selain itu, Kartunet juga sering diundang pelatihan, jadi dari sana aku juga dapet tambahan pengetahuan,” tutur Andira.

Optimalisasi teknologi juga dirasakan oleh Senna Rusli (16), anggota Kartunet lainnya. Senna tidak bisa melihat sejak umur dua tahun. Semenjak itu, siswa kelas 2 SMA Negeri 66 Jakarta ini mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari orang-orang sekitarnya. “Iya dulu kalau masih kecil sering diejek dan sempat tiga kali berhenti sekolah,” tuturnya. Namun, hambatan itu tidak menjadikan Senna berhenti meraih pendidikan. Berkat bantuan rekomendasi guru sekolahnya, Senna mengikuti program akselerasi hingga bisa menjadi siswa SMA dengan umur yang normal. Tekad kuat untuk mengembangkan potensi yang ia miliki kemudian dikembangkannya lewat Kartunet. Senna yang punya hobi menulis tersebut bergabung sejak 2011. Hobinya pun dapat tersalurkan dengan baik. Senna rutin menulis di situs Kartunet. Selain itu, Senna juga menjadi penyiar di radio streaming Kartunet. “ Di radio Kartunet, saya bawain program kedai penulis,” kata Senna. Banyak hal baru yang Ia dapatkan selama bergabung di Kartunet. Bukan hanya mengembangkan potensinya dalam menulis, tetapi juga dalam teknologi. “Kalau teknologi lumayanlah, karena dulu saya tahu sms saja. Kalau disini bisa belajar menggunakan twitter, skype sampai radio streaming,” katanya.

Kartunet, Terobosan Komunitas Kaya Ilmu

Karya Tunanetra (Kartunet) adalah sebuah komunitas penyandang disabilitas yang didirikan pada tahun 2006 oleh Dimas Prasetyo Muharam bersama tiga temannya (Irawan Mulyanto, Aris Yohanes, M. Ikhwan Toriqo) dan resmi berbadan hukum pada tahun 2012 dengan nama Kartunet Foundation. Keempat orang tersebut adalah tunanetra yang memiliki visi yang sama untuk mengusahakan masa depan yang lebih baik bagi penyandang disabilitas. Komunitas ini beralamat di Jalan Pepaya V No.60 RT/RW 003/005 Jagakarsa, Jakarta. Berbekal dengan pembuatan situs, Dimas ingin menunjukkan kemampuan mereka yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat.“Tunanetra dianggap hanya bisa menjadi tukang pijat atau pemusik saja. Padahal sebenarnya mereka punya bakat yang sama seperti orang-orang pada umumnya, tetapi karena keterbatasan itu sendiri akhirnya mereka tidak bisa mengembangkan potensi itu,” tutur Dimas yang kini menjabat sebagai Ketua Kartunet.

Dengan bantuan teknologi, potensi-potensi anggota Kartunet dapat tersalurkan, salah satunya menulis. “Menulis juga dapat dijadikan alat untuk mengemukakan pikiran dan suara mereka. Mereka ingin seperti apa, ingin masyarakat seperti apa,” kata lulusan sastra inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini. Melalui sebuah software bernama screen reader (sebuah aplikasi komputer yang berguna untuk membaca layar,sehingga apa yang kita tulis akan dikonversi ke dalam suara), menulis pun tidak menjadi hal yang sulit dilakukan. Alhasil, tulisan-tulisan hasil karya anggota Kartunet yang mengangkat isu disabilitas atau penyandang disabilitas dapat dinikmati di situs Kartunet. Setidaknya, setiap minggu terdapat 10 sampai 15 tulisan yang dimuat. Tulisan-tulisan tersebut berupa rubrik opini, Insiprasi, Info Disabilitas, Buletin Mata, Editorial, Bakmi Cerpen, Satai Puisi, Cerlu Golek, Cerbang Manalagi, Diary Kaktus, Lab Tekno dan berita.

Saat ini jumlah anggota komunitas yang mempunyai moto mengatasi keterbatasan tanpa batas ini berasal dari seluruh wilayah Indonesia.“Mereka diminta mendaftar di situs kita atau gabung di grup facebook. Kalau dari data pengamatan selama ini, sudah ada seribu orang yang gabung,” ungkapnya. Dimas menjelaskan para anggota tersebut belum resmi karena masih dalam pendataan. Uniknya anggota Kartunet tidak hanya berasal dari penyandang disabilitas saja, tetapi juga masyarakat non-disabilitas. Kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini sebagian diarahkan untuk penyandang disabilitas. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk anggota non disabilitas, karena anggota non-disabilitas pun dapat memuat tulisannya di situs Kartunet. Namun untuk berita, kata Dimas dibuat khusus oleh penyandang disabilitas. “Mereka yang meliput, bisa lewat telepon,” ujar Dimas.

Kegiatan yang dilakukan oleh anggota Kartunet tidak sebatas menghimpun tulisan sebagai citizen media saja. Dimas mengatakan Kartunet sudah memiliki radio komunitas streaming yang baru beroperasi tahun ini. Penyiarnya adalah para penyandang disabilitas yang membawakan program-program antara lain Self-Dev Talkshow, Numpang Siaran, BBM Show, Bengkel Tekno, Berdikari Show, Export On Air, Indinet On Air. “Radio ini bisa dinikmati oleh teman-teman disabilitas yang berada di seluruh wilayah Indonesia. Kita pakainya radio streaming agar mudah diakses,” kata Dimas. Selain itu, Kartunet juga rajin mengadakan pelatihan baik menulis maupun pelatihan penyiar yang dilakukan di kantor Kartunet. Bukan hanya pelatihan, sederet program-program pun rutin dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat luas antara lain Gebyar Sastra Kartunet (GSK), Ajang Kreasi dan Inovasi Tekonologi Aksesibel (AKITA), Buku Kartunet Karya Menginspirasi, Kontes Blogging Semi SEO dan Karmagz e-magazine.

Jumlah anggota Kartunet yang sebagian besar anak muda, terkadang menjadi hambatan. Kendati demikian, Dimas menjadikan hal tersebut sebagai sebuah tantangan. “Namanya juga anak muda, kalau kata orang-orang labil. Tetapi sama-sama belajarlah,” katanya

Dalam Kartunet ini, pada dasarnya Dimas ingin penyandang disabilitas dapat mengembangkan potensi-potensi mereka sehingga bisa berkembang. “Kalau suka musik, bisa kembangkan disini. Nanti mereka yang suka musik bisa belajar bagaimana membuat musik dengan software. Atau kalau ingin bisnis, nanti kita bisa belajar bareng bagaimana berbisnis menggunakan marketing via online. Jadi memang kita memanfaatkan teknologi informasi,” kata Dimas.

Meski beberapa target sudah tercapai, Dimas tidak lantas berpuas diri. “Parameter yang bisa membuat saya bahagia disini adalah bagaimana Kartunet bisa bermanfaat, khususnya anak muda, karena merekalah calon pemimpin masa depan,” ujarnya. Ia juga ingin menjadikan Kartunet sebagai komunitas yang mempunyai peranan kuat di masyarakat. Sebab, selama ini pandangan masyarakat beranggapan bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang lemah dan harus disantuni dan dikasihani. “Jadi untuk mengubahnya kita harus mengubah paradigma dulu, bahwa kita sebagai penyandang disabilitas bukan hanya menerima, tetapi juga untuk memberi. Kita tidak bisa menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban,” katanya bijak.

Kemandirian penyandang disabilitas di Kartunet sendiri mendapat pujian dari Rohimah (40) ,pegawai kantor Kartunet. “Saya salut dengan anak-anak ini. Meski memiliki keterbatasan, tapi bisa menghasilkan karya-karya yang hebat. Jadi, mereka punya tanggung jawab masing-masing, tidak tergantung sama kita,” ujar Rohimah dengan mata berkaca-kaca.

Hanya Butuh Peralatan yang Lebih

Baik Andira maupun Senna sama-sama mengharapkan penyandang disabilitas lain agar terus mengoptimalkan potensi mereka. “Kalau tahu mereka punya kemampuan apa, nanti bisa dikembangkan bersama. Agar nantinya bisa mengoptimalkan potensi yang mereka punya,” kata Andira. Keberadaan Kartunet menjadi terobosan baru bagi penyandang disabilitas dan sebagai media untuk berekspresi. Melalui konten-konten yang dihadirkannya, Senna berharap masyarakat bisa menghargai bahwa ternyata penyandang disabilitas juga punya kemampuan. “Jadi sebenarnya tidak ada perbedaan terlalu mencolok antara orang normal dengan penyandang disabilitas. Hanya saja kita butuh peralatan yang lebih dari mereka. Dari segi kemampuan hampir sama. Masyarakat bisa masak nasi, tunanetra juga bisa,” kata Senna.

Penulis :
Ni Putu Dessy Wulandari
Mahasiswa Peminatan Jurnalisme
Jurusan Ilmu Komunikasi
FISIP, Universitas Indonesia

Diterbitkan oleh harian Radar Depok pada Minggu, 27 Mei 2012

Monday, May 28, 2012

Ulasan Tentang Kartunet di Jurnal nasional

judul: Kartunet Community
penulis: Suci Dian Hayati
terbit: Kamis, 15 Dec 2011
sumber: http://www.jurnas.com/halaman/12/2011-12-15/192281

Jakarta Jurnal Nasional

SALAH satu organisasi di Indonesia yang fokus bicara tentang penyandang disabilitas, adalah Kartunet Community Indonesia. Organisasi nirlaba yang berdiri 19 Januari 2006 ini merupakan hasil kerja keras sekelompok penyandang tunantera. Tujuan, menciptakan masyarakat yang inklusif terhadap penyandang disabilitas.

Salah satu kegiatan utama mereka adalah memublikasikan berbagai hasil kreativitas, ide orisinal, dan potensi-potensi yang dimiliki sesama penyandang disabilitas. Media publikasi yang mereka pilih adalah sebuah website yang beralamat di www.kartunet.com.

Selain untuk menampilkan berbagai potensi mereka, website ini memiliki tujuan sendiri, yakni menghapuskan segala diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Sebab, ada asumsi, penyandang disabilitas tidak mampu bekerja, tidak mampu di bidang seni, dan berbagai ketidakmampuan lainnya hanya karena mereka “kurang‘ secara fisik.

Berslogan Mengatasi Keterbatasan tanpa Batas, lewat kartunet.com mereka ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas adalah individu-individu yang mandiri, berprestasi, dan berinovasi.

Pilihan nama Kartunet bukan tidak sengaja. Seperti tertulis pada website, kartunet berasal dari dua suku kata, yakni karya dan tunanetra. Sehingga, wajar jika di dalam kartunet.com tersedia berbagai hasil karya para penyandang disabilitas. Ada buah karya sastra, keterampilan melukis, dan pengelolaan usaha online. n Suci Dian Hayati

Wawancara Detik.com dengan Kartunet di acara Buka Puasa Komunitas Blogger Detik

judul: Kartunet Ingin Ubah Imej Tuna Netra Tak Identik dengan Tukang Pijat
penulis: Febrina Ayu Scottiati
terbit: Senin, 22/08/2011 15:56 WIB
sumber: http://ramadan.detik.com/read/2011/08/22/155617/1708535/631/kartunet-ingin-ubah-imej-tuna-netra-tak-identik-dengan-tukang-pijat

Jakarta - Karya Tuna Netra (Kartunet), sebuah komunitas kecil pemerhati penyandang tuna netra mempunyai impian yang sederhana namun indah. Mereka ingin diakui segala kemampuannya dan tak ingin dinomorduakan.

"Komunitas Kartunet ingin ikut mengubah opini masyarakat bahwa tuna netra yang selama ini diidentikan dengan tukang pijat bisa lebih dari itu. Kami bisa berbuat yang lebih," kata ketua Kartunet, Dimas Prasetyo Muharam saat ditemui detikcom usai acara berbuka puasa bersama Community detikcom di kantor detikcom, Jalan Warung Jati Barat Raya, Jakarta Selatan, Sabtu (20/8/2011).

Dimas menuturkan, Kartunet sudah didirikan sejak 19 Januari 2006. Waktu itu konten dalam situs tersebut hanya sebatas berbagi konten karya sastra, puisi dan lainnya. Namun seiring bergulirnya waktu, konten itu pun bertambah mulai dari berita seputar para penyandang disabilitas maupun tentang aplikasi teknologi terbaru yang bisa gunakan.

"Dengan internet kami bisa menyetarakan diri, juga bisa mengembangkan bakat masing-masing. Ada program pengembangan diri bagi para tuna netra. Kami tidak mau dikasihani, kami ingin buktikan kalau kami bisa seperti yang lain," terangnya.

Kartunet yang ber-ID-kan @kartunet dalam situs mikro blogging Twitter ini memiliki lebih dari 200 member. Kartunet sendiri nantinya akan menerima kiriman artikel, maupun berita atau tips-tips seputar kebutuhan mereka. Digawangi 17 pengurus Kartunet mengadakan rapat rutin sebulan sekali. Mereka berharap dengan adanya wadah komunitas online itu, para penyandang tuna netra bisa saling berinteraksi dan saling berbagi info.

"Sayangnya tidak semua tuna netra sanggup mengakses internet. Kebanyakan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung. Kalau dipelosok jarang ada. Padahal kalau ada itu bagus," ujar mahasiswa Sastra Inggris Universitas Indonesia ini.

Ia pun mengkritisi program-program pemerintah yang mengenalkan internet kepada para tuna netra. Menurutnya pemerintah hanya sekadar membuat program pengenalan internet namun tidak memberikan pelatihan bagaimana agarasetelah pengenalan, para tuna netra bisa berdiri secara mandiri menggunakan internet.

"Pemerintah terbatas pengenalan saja ini lho internet, padahal yang jauh lebih dibutuhkan itu pengembangan insan tuna netra agar bisa mandiri menggunakan internet. Misalnya pelatihan online shop untuk memperjualbelikan dagangan dan lainnya," katanya.

Dimas juga berharap masyarakat mau peduli dengan segala kelebihan di balik kekurangan para tuna netra. "Kami yakin masyarakat bukannya tidak peduli namun mereka belum tahu tentang kemampuan kami," imbuh pria yang mengalami penurunan kemampuan melihat saat ia duduk di kelas 6 SD.

Bukannya tidak beralasan apa yang dikatakan Dimas, buktinya dalam acara buka bersama tersebut, satu per satu para tuna netra menyuguhkan bakat yang mereka miliki. Misalnya saja sulapan maupun bermain game online balap mobil 'Playing in The Dark.' Banyak di antara mereka lincah menekan tombol keyboard menuruti suara perintah yang terdengar secara lisan. Meski selalu berjalan beriringan dengan saling memegang pundak, mereka tak pernah mengeluh akan kekurangan yang dimiliki dan tak pernah berhenti berharap.e

Ulasan Mengenai Kartunet di SalingSilang.com

Judul: Kartunet.com: Kanal Informasi Disabilitas di Indonesia
penulis: Muammar Fikrie
terbit: Minggu, 25 Maret 2012
Sumber: http://salingsilang.com/baca/kartunet.com-kanal-informasi-disabilitas-di-indonesia

Anda tertarik dengan isu-isu disabilitas? Cobalah untuk berkunjung ke situs Kartunet.com. Dengan tagline “Media Akselerasi Mewujudkan Inklusi”, Kartunet.com hadir untuk sebagai sarana publikasi karya-karya dari para penyandang disabilitas. Tak sampai di situ, situs ini juga menyajikan kabar, informasi dan forum diskusi seputar disabilitas.

Kartunet merupakan akronim dari kata "karya” dan “tunanetra”. Berawal pada 19 Januari 2006 sekelompok pemuda tunanetra mendirikan komunitas nirlaba Kartunet dan situs Kartunet.com sebagai corongnya di dunia jejaring. Data ensiklopedia bebas Wikipedia Indonesia menyebutkan nama Irawan Mulyanto, Aris Yohanes Elean, Dimas Prasetyo Muharam dan M Ikhwan Tariqo, sebagai pencipta situs ini.

Pada awalnya merupakan sebuah situs yang fokus pada karya tunanetra, belakangan kanal ini berkembang dengan turut menyajikan informasi, forum dikusi dan pencapaian penyandang disabilitas yang lainnya. Dalam catatan profilnya, terlihat gambaran cita-cita pendirian situs ini, sebagai berikut:

karya-karya para penyandang disabilitas agar masyarakat lebih mengenal dan memahami para penyandang disabilitas untuk kemudian dapat menerima mereka sebagai bagian dari keragaman masyarakat.

Pada akhir tahun 2011, Kartunet menjadi salah satu penerima hibah Cipta Media Bersama, program hibah terbuka hasil kerjasama Ford Foundation, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Wikimedia Indonesia, dan ICT Watch.

Kartunet.com bukanlah satu-satunya kanal informasi yang dikelola Komunitas Kartunet di dunia jejaring. Lembaga ini juga menyediakan layanan radio online. Di linimasa Twitter anda bisa berinteraksi dengan mereka lewat akun @kartunet. Atau anda juga boleh ‘memberikan jempol’ di halaman Facebook Komunitas Kartunet.

Thursday, May 17, 2012

Kartunet Mendapat Hibah Cipta Media Bersama

Jakarta – Kartunet berhasil menjadi salah satu dari dua puluh penerima dana hibah dari cipta media. Pengumuman proposal yang berhasil memperoleh dana hibah dilakukan pada Selasa, 8 November 2011, pukul 11.00, bertempat di Ford Foundation, Sequis Building Lt. 11, Jl. Jendral Sudirman 71, Jakarta. Pengurus Kartunet yang datang pada pengumuman ini adalah Dimas Prasetyo Muharam (ketua KCI). Kartunet memperoleh dana hibah ini dari kategori “Meretas Batas Kebhinekaan Bermedia” dengan judul Kartunet.com: Media Online Sosialisasi dan Pengembangan Komunitas Pemuda dengan Disabilitas, yang informasi lengkapnya dapat dibaca di http://www.ciptamedia.org/2011/11/08/kartunet-com-media-online-sosialisasi-dan-pengembangan-komunitas-pemuda-dengan-disabilitas-3/.

Cipta Media adalah hibah terbuka untuk memunculkan ide baru dan segar dalam praktik bermedia yang mampu membuat perbaikan media di Indonesia. Untuk melaksanakan program ini, cipta media didanai oleh the Ford Foundation serta didukung oleh tiga organisasi yaitu Wikimedia Indonesia, ICT Watch, dan AJI Indonesia. Total dana hibah terbuka ini adalah satu juta US$, atau sekitar 8,5 milyar rupiah.

Pada tahap awal, Cipta Media menerima lebih dari 820 proposal dari seluruh Indonesia yang terbagi dalam empat kategori. Selanjutnya, proposal yang diajukan Kartunet berhasil masuk ke tahap berikutnya, informasi lengkapnya dapat dibaca di http://www.kartunet.com/peluang-kartunet-memperoleh-dana-hibah-semakin-terbuka-706. Pada tahap awal, jumlah dana hibah yang diajukan oleh Kartunet sebesar satu milyar rupiah, namun setelah melakukan konsultasi dengan dewan juri, kartunet merevisi proposal dan dana yang diajukan menjadi 244 juta rupiah. Akhirnya, Kartunet berhasil menjadi salah satu penerima dana hibah Cipta Media dengan jumlah 244 juta rupiah, sesuai dengan total dana yang diajukan dalam proposal.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dewan juri yang telah memilih Kartunet sebagai salah satu penerima dana hibah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung Kartunet selama pembuatan proposal, maupun memberikan dukungan melalui jejaring sosial. Kami berharap dana hibah ini dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan program-program yang telah kami rancang di dalam proposal, sehingga dapat memberi manfaat bagi kemajuan kaum disabilitas, khususnya tunanetra di Indonesia.

Peluang Kartunet Memperoleh Dana Hibah Makin Terbuka

Jakarta – Kartunet Community Indonesia (KCI) berhasil masuk dalam 35 besar calon penerima dana hibah Cipta Media Bersama (CMB) dari total 821 proposal melalui dua kategori sekaligus, yaitu pemilihan juri, serta hasil pilihan public (voting) sebesar 2439 suara.

Kartunet mengikuti acara ini untuk mendapatkan dana hibah sejumlah satu milyar rupiah dan akan digunakan untuk melaksanakan program-program yang telah direncanakan. Voating dan penjurian ditutup pada tanggal 21 September, sedangkan pengumumannya dilaksanakan pada press conference tanggal 23 September di The Akmani Hotel, Jl. KH. Wahid Hasyim 91, Jakarta Pusat. Adapun Kartunet adalah satu-satunya pengaju proposal yang terpilih dalam dua kategori yakni pemilihan kualitatif oleh tim seleksi awal dan voting online. Selain itu, Kartunet pula satu-satunya proposal yang mengangkat isu disabilitas yang lolos seleksi tahap awal ini dari banyak proposal lain yang mengangkat isu serupa.

Cipta Media Bersama adalah hibah terbuka yang mengajak individu atau organisasi memunculkan ide baru dan segar dalam praktek bermedia yang mampu membuat perbaikan media di Indonesia. Hibah terbuka ini menyediakan dukungan dana sebesar satu juta dolar AS bagi proposal-proposal yang berhasil terpilih. Kompetisi ini didukung oleh empat lembaga yaitu Ford Foundation, ICT Watch, Asosiasi Jurnalis Independen (AJI), dan Wikimedia Indonesia.

Dalam proposal yang diajukan, ide yang digagas oleh kartunet adalah “Kartunet.com: Media Online Sosialisasi dan Pengembangan Komunitas Pemuda dengan Disabilitas”, adapun rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh kartunet adalah Kartunet Spirit Home, Kartunet Citizen Media, Kartunet on Campaign, Kartunet on Network, Kartunet on Radio, serta Kartunet Groups. Pada pemilihan juri, kartunet masuk dalam nominasi calon penerima dana hibah melalui topic meretas batas – kebhinekaan bermedia, sedangkan dalam voating, kartunet menduduki peringkat keempat dengan jumlah 2439 suara. Dewan juri pada tahap seleksi awal ini adalah Adyani Hapsari Widyowati, Donny B.U., Heidi Arbuckle, Irfan Toni Herlambang, Margiyono, Siska Doviana, serta Yan Aryanto.

Setelah pengumuman ini, proposal Kartunet masuk dalam tahap konsultasi dan perbaikan ide proposal serta anggaran dengan tim seleksi awal sampai tanggal 12 Oktober. Selanjutnya ketetapan akhir dana hibah proposal akan ditentukan oleh tim juri tetap yang terdiri dari Anggara (praktisi hukum), Johar Alam Rangkuti (Pendiri Internet Data Center), Merlyna Lim (Peneliti di Arizona State University), Nia Dinata (Sutradara dan produser film), Onno W Purbo (pakar teknologi informasi), Wimar Witoelar (tokoh media), Shinta Dhanuwardhoyo (pendiri bubu.com), Yanuar Nugroho (peneliti inovasi teknologi), dan Yoris Sebastian (pakar bisnis kreatif). Pengumuman seleksi tahap akhir akan disampaikan oleh panitia pada press conference tanggal 4 November.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dewan juri yang telah memilih proposal yang kami ajukan untuk masuk ke tahap berikutnya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh simpatisan dan pendukung kartunet, yang telah mendukung perjuangan kami dengan ikut berpartisipasi memilih kartunet sehingga kami masuk ke dalam lima besar jumlah voaters terbanyak. Terpilihnya kami dalam dua kategori ini membuat kami semakin bersyukur bahwa ide kami dapat diterima oleh tim juri seleksi yang berwawasan luas dan sekaligus mendapat dukungan besar dari masyarakat yang ingin melihat Indonesia lebih ramah pada penyandang disabilitas.

Selama masa voting yang ditutup pada 21 September lalu, Kartunet membuat kuis kecil dalam rangka memeriahkan kompetisi yaitu kuis komentar terunik dan inspiratif di kolom komentar halaman voting Kartunet.com di situs ciptamedia.org. Ada hadiah pulsa dengan total nominal Rp 100.000,00 yang diraih oleh dua orang simpatisan Kartunet.com yaitu M. Irfan Priadi (Bandung) dan Eka Prathiwie Taufanty (Brebes). Selamat untuk pemenang kuis komentar dan terima kasih untuk saran, masukan, dan apresiasi kepada kami.

Kartunet Menyabet Dua Penghargaan Internet Sehat

Jakarta-Setelah sukses mengadakan acara buka puasa bersama sekaligus peringatan hud RI yang ke 66 pada tanggal 21 agustus 2011 di kantor detik.com di Jl. Warung Buncit Raya, Aldevco Octagon Building - Lantai 2, Jakarta Selatan, kini kartunet telah meraih dua penghargaan dari internet sehat yaitu masing-masing berjenis bronze dan silver.

Pihak internet sehat mengatakan bahwa kartunet layak untuk diberikan penghargaan tersebut karena kartunet dianggap sebagai media online yang dipandang unik dari media online pada umumnya karena dibuat oleh para tunanetra yang ternyata telah menguasai dunia IT dan blog.

mereka merasa bangga dan salut terhadap team kartunet yang meski memiliki keterbatasan tapi terus berusaha untuk menghilangkan segala hambatan yang dihadapi. Ada pun penghargaan tersebut, diterima langsung oleh Dimas Prasetyo Muharam (direktur dari kartunet) yang di mana bingkisan penghargaan tersebut langsung dikirimkan ke rumah beliau, berupa kaos bertuliskan promo internet sehat, CD cara berinternet yang sehat, serta voucher xl 100.000,00

Seluruh staff Kartunet berharap, bahwa kedua penghargaan dari internet sehat tersebut akan berpengaruh bagi langkah kartunet ke depan untuk terus menjadi media terdepan bagi para penyandang disabilitas di Indonesia. Kartunet pun banyak mengucapkan terimakasih atas segala dukungan yang telah diberikan oleh team media online lainnya yang terus mendukung eksistensi kartunet khususnya dari internet sehat yang telah mendukung kartunet secara penuh.

Saat ini kartunet terus berupaya untuk merebut dua penghargaan lainnya dari internet sehat yaitu gold dan platinum, dengan terus memberikan karya-karyanya yang terbaik. Semoga kartunet tetap terus berakselerasi dalam mensosialisasikan para penyandang disabilitas melalui media online.

Teknologi bagi tunanetra

Teknologi bagi Tunanetra

Oleh Dimas Prasetyo Muharam
Salah satu admin kartunet.com
Email : dimas@kartunet.com

Mungkin kita masih tidak percaya ketika mendengar bahwa tunanetra bisa mengoperasikan komputer atau bahkan berselancar di belantara internet. Tapi pada kenyataannya, semua hal tersebut sudah terjadi. Para tunanetra dengan bantuan teknologi maju sudah bisa mengoperasikan komputer. Baik itu operating system windows, program microsoft office, atau hanya sekedar memutar musik berformat mp3 yang tersimpan di hardisk komputer.

Teknologi bagi tunanetra ini dengan sendirinya telah membantu proses pengwujudan masyarakat yang inklusif. Paradikma masyarakat mulai terbuka dan sadar bahwa tunanetra bukan hanya tukang pijit, pemain alat musik, atau peminta-minta. Tapi sekarang masyarakat tahu bahwa ada yang bisa mengoperasikan komputer, melakukan tugas tulis menulis, membuat musik melalui keyboard dan komputer, menjadi penerjemah bahasa, dan lain-lain.

Bukti nyata bahwa tunanetra bisa mengoperasikan komputer, berselancar di internet, atau bahkan membuat website sendiri adalah situs kartunet.com. Situs yang beralamat di http://www.kartunet.com ini merupakan website yang benar-benar karya tunanetra. Kartunet itu sendiri adalah singkatan dari “karya Tunanetra”. Di dirikan oleh empat orang penggagas yaitu Irawan Mulyanto, Dimas Prasetyo M, Ikhwan Toriqo, dan Aris Yohanes, website ini bertujuan untuk mensosialisasikan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh para tunanetra. Dalam website ini terdapat berbagai karya sastra, baik itu yang ditulis sendiri oleh para tunanetra atau masyarakat umum pengunjung situs kartunet.com. Di dalamnya juga terdapat beberapa fasilitas lain yang bisa diakses oleh semua orang seperti forum diskusi, halaman curhat, buku tamu, game sederhana, dan ramalan bintang. Website ini bukan hanya bisa dinikmati secara audio oleh tunanetra melalui software yang akan dijelaskan dibawa ini, tetapi juga oleh orang normal kebanyakan yang menggunakan metode visual. Pada intinya, situs kartunet.com ini adalah wadah tempat berkreasi bagi para tunanetra yang diperuntukan bagi tunanetra dan juga semua kalangan.

Dari fakta di atas, mungkin anda masih bingung, bagaimana para tunanetra ini bisa membuat website tanpa anda mengetahui bagaimana keadaan komputer yang dipergunakan oleh mereka. Komputer accessible bagi tunanetra yang kemudian disebut komputer bicara ini adalah sebuah PC atau Laptop standard. Tak ada bedanya dengan yang mungkin anda gunakan sekarang. Tapi ada sebuah software yang harus diinstall terlebih dahulu dalam komputer tersebut sehingga bisa dipergunakan oleh seorang tunanetra. Program ini untuk selanjutnya disebut program pembaca layar atau Screen reader. Sebagai contoh salah satu merek dari program ini adalah JAWS yang merupakan singkatan dari Job Access with Speech yang bisa anda lihat info lebih lengkapnya di homepagenya di alamat http://www.freedomscientific.com. Prinsip kerja dari program pembaca layar adalah memperoses tulisan atau teks yang muncul di layar untuk kemudian direproduksi dalam bentuk suara yang bisa didengar oleh seseorang melalui headset atau loud speaker. Untuk program jaws misalnya, ia masih menggunakan sistem speling dan pronunciation bahasa inggris, jadi sebuah teks dalam bahasa apapun, akan dieja dalam bahasa inggris. Tapi perlu ditekankan, bukan diterjemahkan dalam bahasa Inggris, hanya dibaca dengan dialeg Inggris. Jadi pada intinya, semua yang muncul dan tertulis dilayar, dapat dibaca oleh tunanetra dengan mendengarkan suara yang membacakan lafal dari teks tersebut. Hanya teks yang dapat dibaca, tidak bisa buat gambar atau grafik. Singkat cerita, mekanisme ini seperti seorang pembaca pribadi bagi tunanetra yang terdapat dalam sebuah komputer.

Selain dipergunakan untuk mengetik dan mengolah data, tunanetra juga bisa membaca buku atau naskah dalam format tulisan awas (istilah untuk tulisan biasa) melalui komputer bicara ini. Dengan bantuan alat yang disebut scanner, tunanetra bisa dengan mandiri membaca naskah awas tanpa perlu dibacakan lagi oleh orang normal. Sehingga pekerjaan membaca buku yang sebelumnya harus dalam bentuk tulisan braille atau direkam dalam kaset atau CD dapat dipersingkat dengan langsung membacanya melalui komputer.

Walaupun membaca buku melalui komputer sudah memungkinkan, tapi media buku bicara masih efektif untuk dipergunakan. Media ini disebut buku bicara karena teknik pembuatannya adalah dengan merekam suara pembacaan sebuah buku oleh seseorang yang disimpan dalam bentuk kaset atau digital CD. Sehingga jika seseorang memutar kaset atau CD tersebut, maka akan terdengar suara seseorang membaca buku yang kemudian disebut buku bicara.

Buku bicara ini pada umumnya lebih digemari oleh tunanetra. Karena dapat lebih dimengerti dengan adanya intonasi dan ekspresi dari pembaca buku bicara. Sejauh pengetahuan penulis, produksi buku bicara ini baru dilakukan oleh Yayasan Mitra Netra yang bergerak dibidang pendidikan dan rehabilitasi tunanetra. Buku bicara ini pada awalnya diproduksi dalam bentuk kaset, kemudian Yayasan Mitra Netra sudah mulai memproduksi dalam bentuk digital CD yang lebih praktis. Tapi sekarang juga sudah diproduksi dalam bentuk ebook halaman-halaman HTML. Yang bisa diakses melalui program internet browser.

Kemudian mungkin anda juga ingin tahu, apakah tunanetra bisa mengakses telepon genggam yang populer disebut handphone. Kita semua mengetahui bahwa telepon genggam khususnya untuk tipe-tipe terbaru memiliki feature dan menu-menu yang rumit. Tapi ternyata, handphone tersebut pun bisa diakses oleh tunanetra. Mekanismenya sama seperti komputer yang menggunakan screen reader atau pembaca layar. Handphone terlebih dahulu diinstall program yang disebut talks. Program ini berjalan pada handphone yang berbasis operating system symbian. Jadi program sscreen reader yang sudah terinstall, akan membacakan menu-menu dan perintah-perintah yang terdapat dalam handphone. Program ini sangat membantu bagi tunanetra terutama dalam membaca dan menulis sms. Sehingga tunanetra juga memiliki privasi dalam hal tersebut. Tidak perlu lagi meminta orang awas (sebutan untuk orang normal) membacakan isi sms yang kemungkinan tidak ingin isinya diketahui oleh orang lain.

Semua teknologi yang sudah penulis sebutkan di atas, sangatlah membantu sekali bagi tunanetra. Mereka bisa mengfungsikan kembali kemampuan administrasi atau tulis menulis yang sebelumnya sangat sulit dilakukan secara mandiri. Tapi sayangnya, hal-hal tersebut belum tersosialisasi dengan baik dalam masyarakat. Mereka masih menganggap instalasi teknologi bagi tunanetra membutuhkan biaya yang sangat mahal. Walaupun penulis juga akui instalasi teknologi bagi tunanetra cukup mahal, tapi manfaat yang dihasilkan jauh lebih besar jika dibandingan dengan harganya.

Penulis menginginkan setiap warnet memiliki minimal dua komputer bicara yang bisa diakses oleh tunanetra. Sehingga tunanetra yang tidak memiliki komputer di rumah, bisa mengakses teknologi dan informasi yang serupa lewat warnet. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu sulit untuk direalisasikan. Harga program pembaca layar sekitar 250USD. Tapi juga tersedia versi trial yang bisa dipasang gratis tanpa biaya.

Perpustakaan juga akan menjadi aksesibel jika menyediakan buku-buku dalam versi tulisan braille atau buku bicara. Sebelumnya, tunanetra menganggap perpustakaan adalah tempat yang tak bisa diakses. Tapi jika tersedia buku braille dan buku bicara, maka mereka juga bisa membaca buku langsung di perpustakaan atau meminjamnya untuk dibaca di luar perpustakaan. Selain itu bisa juga perpustakaan tidak perlu menyediakan buku braille atau bicara, tetapi cukup komputer bicara yang akses katalog atau tulisan braille yang memuat informasi buku-buku apa saja yang tersedia di perpustakaan tersebut. Sehingga tunanetra tidak perlu meminta pertolongan orang awas untuk mencari buku dan membacakan katalog.

Teknologi bagi tunanetra memang sangat bermanfaat. Hal ini bisa memberikan hak-hak tunanetra yang sama dengan orang lainnya. Jangan pernah jadikan tunanetra dan penyandang cacat yang lainnya sebagai beban, tapi izinkan pula mereka dalam peran serta menyukseskan pembangunan bangsa. Penulis berharap teknologi ini bisa cepat tersosialisasikan dalam masyarakat. Sehingga bisa melahirkan ahli-ahli ilmu pengetahuan berikutnya yang berasal dari kaum penyandang cacat. Karena mereka juga warga negara yang memiliki hak dan kewajiban untuk memajukan kehidupan bangsa. (DPM)

*Tulisan pernah dipublikasikan di rubrik Halaman Muda harian Media Indonesia tahun 2008

Mewujudkan Masyarakat Indonesia Inklusif

Mewujudkan masyarakat Indonesia yang Inklusif

Oleh Dimas Prasetyo Muharam
Salah satu admin Kartunet.com
E-mail : dimas@kartunet.com

Di era yang sudah serba transparan ini, penyebaran informasi sudah tidak terbatas lagi. Berbagai ilmu pengetahuan dan unsur-unsur kebudayaan tersebar cepat. Abad 20 yang lebih berorientasi ke barat, tak elak mendifusi baik pengaruh negatif atau positif. Dalam pengaruh positif tersebut yang sangat berguna bagi kehidupan umat manusia adalah kebebasan, persaudaraan, dan persamaan derajat. Nilai-nilai tersebut makin banyak dianut oleh orang-orang yang berfikiran moderen. Mereka menghargai kemerdekaan untuk hidup, berpendapat, dan memiliki sesuatu. Pengaruh lainya adalah pengakuan bahwa setiap manusia itu sama. Tak dibedakan atas warna kulit, suku, agama, atau bahkan kecacatan fisik.

Penyandang cacat jika dilihat memang tampak berbeda, tak berdaya, dan patut dikasihani. Tapi sebenarnya anggapan masyarakat ini salah. Anggapan seperti itu malah akan membuat masyarakat menjauh atau merasa enggan untuk berinteraksi dengan para penyandang cacat. Sehingga mempersulit terwujudnya masyarakat yang inklusif.

Penyandang cacat ini terdiri dari para Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa, dan lain-lain. Walaupun mereka secara sekilas dapat diidentifikasi tidak bisa melihat, mendengar, atau berjalan misalnya, tapi jika ada cara alternatif, mereka dapat melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan orang normal sekalipun. Oleh Karena Itu, muncul istilah difabel yang diserap dari kata diffable yang juga merupakan singkatan dari Different Ability. Jadi di sini maksudnya, mereka dapat mengerjakan apa yang dianggap masyarakat umum tidak bisa lakukan, asal ada sarana atau alat Bantu yang sesuai. Seperti contoh para tunanetra. Fungsi mereka untuk melihat mungkin hilang atau berkurang. Tapi mereka dengan alat-alat khusus, bisa membaca buku teks yang sebelumnya dikira tidak mungkin oleh anggapan orang awam. Dengan bantuan huruf braille dan kaset rekaman, tunanetra bisa mengetahui isi dari sebuah buku teks. Bahkan sekarang tunanetra bisa mengakses komputer yang dilengkapi dengan program pembaca layar atau screen reader. Dengan bantuan komputer yang kemudian disebut komputer bicara dan alat yang disebut scanner, tunanetra bisa membaca buku langsung melalui komputer tanpa perlu dicetak terlebih dahulu dalam bentuk tulisan braille.

Setelah mengetahui bahwa para penyandang cacat ini bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh orang normal, mereka menginginkan persamaan hak dalam masyarakat. Mereka merasa bukan lagi sebagai orang yang tersisih atau malah menjadi beban, tapi mereka mampu untuk mengkontribusikan potensi yang mereka miliki untuk sama-sama turut serta aktif dalam proses pembangunan bangsa. Mereka tidak ingin perlakuan istimewa. Perlakuan yang dianggap oleh orang normal baik untuk mereka tapi sejatinya menjauhkan para penyandang cacat ini dari masyarakat umum. Persamaan hak adalah hal yang mereka ingini. Diberi persamaan dalam hak untuk memperoleh pekerjaan, hak dalam memperoleh pendidikan, hak dalam bidang ekonomi, dan lain-lain.

Inilah keadaan yang dinamakan keadaan masyarakat inklusi. Inklusi memiliki makna terbuka. Maksudnya adalah masyarakat yang terbuka bagi para penyandang cacat dan para penyandang cacat yang terbuka bagi masyarakat. Keadaan ini dimana para penyandang cacat sesuai dengan potensi mereka ada dalam sektor-sektor pekerjaan masyarakat. Jadi masyarakat tidak aneh lagi ketika melihat ada seorang penyandang cacat yang bekerja di bagian administrasi sebuah kantor misalnya.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, pengwujudan masyarakat inklusif sudah dirintis dengan adanya sekolah-sekolah umum yang menerima siswa berkebutuhan khusus. Siswa berkebutuhan khusus ini adalah istilah untuk siswa yang memiliki cacat fisik tetapi secara intelektual dapat mengikuti pendidikan di sekolah umum. Oleh karena itu mereka membutuhkan beberapa fasilitas khusus untuk bisa belajar dan mengikuti pelajaran di kelas bersama siswa-siswa normal lainnya. Sekolah umum yang menerima siswa berkebutuhan khusus ini disebut sekolah terpadu. Hal ini karena sekolah tersebut memadukan siswa berkebutuhan khusus dalam kelas yang sebagian besar bersiswakan siswa normal. Tetapi istilah ini sekarang berubah menjadi sekolah inklusif agar lebih tegas bahwa sekolah umum itu terbuka bagi siapa saja termasuk para penyandang cacat.

Sekolah-sekolah inklusif ini harus memiliki guru-guru yang sudah mengerti bagaimana mengajar pada anak didiknya yang berkebutuhan khusus. Bagaimana cara menerangkan di kelas, sehingga selain murid normal yang faham, siswa berkebutuhan khusus juga bisa mengerti dengan penjelasan dari guru. Kemudian juga bagaimana teknik dalam menerangkan pelajaran ilmu alam dan matematika kepada siswa berkebutuhan khusus. Karena mata pelajaran tersebut pada umumnya butuh perhatian yang lebih dari biasanya. Mungkin dengan kesabaran dari guru dan fasilitas tambahan seperti alat peraga, siswa berkebutuhan khusus bisa mengerti pelajaran ilmu alam dan matematika sebaik siswa normal lainnya. Tapi sebaik apapun guru dan sekolah tempat siswa berkebutuhan khusus itu belajar, hal yang terpenting adalah kesadaran dari siswa itu sendiri. Mereka harus bisa menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Harus aktif dan banyak bertanya jika mengalami kesulitan. Kemudian mencoba berdiskusi dengan guru jika guru menemui kesulitan dalam menerangkan sesuatu kepada mereka.

Dalam pergaulan di sekolah atau masyarakat umum, para penyandang cacat juga harus terbuka. Mereka jangan pernah merasa minder dengan keadaan mereka. Karena sejauh pengamatan penulis, jika si penyandang cacat itu menutup diri mereka, maka masyarakat umum juga akan menjauh atau tak berani mendekati mereka. Orang awam beranggapan jika mereka mendekati para penyandang cacat, takut jika mereka tersinggung atau tidak suka bergaul. Tapi jika para penyandang cacat membuka diri mereka dan mencoba untuk berinteraksi dengan orang normal, maka masyarakat akan dapat menerima dan akan sangat bermanfaat bagi kebutuhan sosialisasi bagi para penyandang cacat.

Di bidang lapangan pekerjaan, keadaan yang inklusif masih dalam kadar yang sedikit. Paradikma masyarakat kepada seorang tunanetra misalnya, hanya melulu pada bidang pekerjaan sebagai tukang pijit atau seorang musisi. Tapi pandangan ini sedikit demi sedikit berubah dengan mulai banyak tunanetra yang menempati posisi-posisi yang biasa dilakukan orang normal. Seperti sudah ada yang bekerja sebagai operator telepon, translater bahasa, dan lain-lain. Bahkan pekerjaan arrangement musik saat ini dengan bantuan teknologi tunanetra dapat mengerjakannya melalui komputer. Bagaimanapun juga, keadaan ini masih jauh dari harapan terwujudnya masyarakat yang inklusif. Para penyandang cacat masih sedikit yang menempati posisi-posisi penting dalam sebuah hirarki kerja. Mereka dianggap tidak mampu dan dapat merugikan perusahaan pada nantinya. Padahal dengan bantuan teknologi yang sudah maju, para penyandang cacat ini dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut asal ada latihan dan usaha terpadu dari si penyandang cacat dan pihak perusahaan.

Pemerintah dalam hal pekerjaan dan persamaan hak sudah turut serta aktif. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya undang-undang no 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat. Di sana dijelaskan definisi persamaan hak, aksesibilitas bagi penyandang cacat, dan persamaan hak serta kewajiban dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. Ada sangsi administratif bagi perusahaan yang tidak memberikan persamaan hak bagi para penyandang cacat. Walaupun peraturan ini sudah cukup baik, tapi pelaksanaannya masih belum optimal. Masih banyak terjadi diskriminasi bagi para penyandang cacat di bidang pekerjaan.

Keadaan masyarakat yang inklusif ini, tidak akan bisa terwujud jika tidak ada kerjasama antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, para penyandang cacat, dan lembaga-lembaga lain yang terkait. Dibutuhkan kerjasama dan saling berkontribusi di dalamnya. Sosialisasi melalui berbagai media juga sangat diperlukan dalam mempercepat proses realisasi masyarakat yang inklusif. Seperti dengan adanya website http://www.kartunet.com Website ini dibuat oleh para tunanetra dan bertujuan untuk mensosialisasikan potensi yang dimiliki oleh para penyandang cacat. Jadi, jangan pernah lelah untuk mewujudkan masyarakat inklusif yang akan menjadikan kehidupan sesama manusia menjadi lebih baik. Baik bagi masyarakat, dan akan lebih baik lagi bagi para penyandang cacat. (DPM)

*Tulisan pernah diterbitkan pada rubrik Halaman Muda harian Media Indonesia tahun 2008

Seandainya Aku Menteri Sosial RI

Seandainya Aku Mentri Sosial RI

Oleh Rafik Akbar
Salah satu admin Kartunet.com
E-mail : rafik@kartunet.com

Seandainya aku diamanatkan untuk menjadi seorang mentri social. Aku ingin membuat Indonesia ini betul-betul memahami tentang para penyandang keterbatasan fisik. Berapa juta para penyandang keterbatasan fisik di Indonesia ini yang merasa kurang diakui keberadaannya di dalam tanah airnya sendiri.

Jalan-jalan besar banyak di buat tetapi sayang dari sekian banyak jalan-jalan besar di Indonesia belum ada trotoar yang accessible untuk penyandang keterbatasan fisik tunadaksa. Kemudian dari sekian ratus ribu gedung-gedung pencakar langit di Indonesia, hampir semua lif yang terdapat di gedung tersebut tombolnya tidak dilengkapi oleh huruf braille. Nah pastinya hal itu sangat menyulitkan para penyandang keterbatasan fisik tunanetra. Dan masih banyak lagi ketidak sadaran pemerintah dalam menyetarakan rakyatnya. Apakah pemerintah tidur. Atau tak mau tahu tentang kesulitan-kesulitan yang dimiliki oleh rakyatnya yang memiliki keterbatasan fisik tersebut.

Kemudian selain fasilitas umum yang kurang accessible di negara ini, pemerintah juga sangat mengabaikan kesejahteraan para penyandang keterbatasan fisik. Sebagai contoh, masih banyak para penyandang keterbatasan fisik yang hidupnya hanya berpangku tangan mencari belas kasihan dari orang lain dengan keterbatasan yang dimilikinya. Sudah jelas hal itu sangat ironis karena terjadi di negeri yang dijuluki Jamrud Khatulistiwa oleh Multatuli di bukunya yang berjudul Max Havelar. Contoh yang lebih spesifik lagi, banyak para penyandang keterbatasan fisik yang sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, padahal di dalam undang-undang sudah dikatakan bahwa setiap perusahaan harus memiliki paling sedikit 10% karyawan yang memiliki keterbatasan fisik dari keseluruhan karyawan yang normal.

Dilihat dari segi sosial, pemerintah sangat kurang mensosialisasikan tentang para penyandang keterbatasan fisik di negara ini. Apa, bagaimana, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyan yang timbul di benak masyarakat luas jika bertemu dengan seseorang/sekelompok orang yang memiliki keterbatasan fisik. Contohnya, ketika ada seorang/sekelompok orang tunanetra yang ingin menyebrang jalan besar dan jelas-jelas sudah memegang tongkat putihnya, masih banyak masyarakat yang tidak memiliki kepedulian untuk membantunya menyebrang jalan. Atau mungkin para pengendara kendaraan umum/pribadi yang masih terus saja menginjak kopling kendaraanya dan ragu untuk menginjak pedal remnya daripada memberikan kesempatan seorang tunanetra menyeberang jalan.

Selanjutnya, di zaman yang modern dan penuh dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, masih banyak masyarakat yang belum menyadari. Bahwa para penyandang keterbatasan fisik ini mungkin memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang normal. Contohnya para penyandang keterbatasan fisik tunanetra yang selama ini dikenal hanya dengan keahliannya dalam pijat massage dan operator telepon, sudah berhasil menggugah walaupun baru sebahagian masyarakat dengan membuktikan bahwa sekarang ini para tunanetra sudah dapat mengoperasikan komputer atas bantuan dari sebuah software. Software ini berfungsi sebagai pembaca tex yang terdapat di layar komputer. Nah dengan pembuktian seperti itu, para tunanetra sedikit terangkat keeksistensiannya di dalam masyarakat yang masih berfikiran sempit tentang tunanetra.

Selain itu dalam dunia pendidikan, masih banyak diskriminasi yang dialami oleh para penyandang keterbatasan fisik. Contoh kongkritnya, masih banyak sekolah-sekolah umum yang belum bersedia menerima penyandang keterbatasan fisik untuk bersekolah ditempat mereka. Padahal mereka sebenarnya bisa bahkan mampu bersaing dengan orang-orang yang awas (normal) dalam hal pendidikan. Karena yang dipertaruhkan disini adalah kemampuan intelektual yang mereka miliki, Bukan keterbatasan fisik yang menjadi sebuah hambatan. Memang, ada beberapa penyandang keterbatasan fisik yang benar-benar tidak dapat disamakan sekolahnya dengan orang-orang awas pada umumnya. Seperti penyandang keterbatasan fisik tunagrahita (terbelakang mental) pastinya tidak dapat disekolahkan di sekolah umum. Hal ini dikarenakan mereka mempunyai kemampuan berfikir dan daya tangkap yang di bawah rata-rata pada umumnya.

Nah, berdasarkan empat poin yang sudah saya paparkan di atas. Saya akan membenahi keempat poin tersebut dengan sebaik-baiknya. Contohnya pengakuan terhadap persamaan hak bagi para penyandang keterbatasan fisik. Saya akan berusaha semaximal mungkin untuk memberikan apa yang sebenarnya harus mereka miliki. Seperti perbaikan trotoar-trotoar di jalan-jalan besar agar dapat digunakan oleh para penyandang keterbatasan fisik tunadaksa dengan nyaman. Saya juga akan menerapkan lift-lift yang aksesibel bagi tunanetra. Karena seharusnya alat mobilitas tersebut diberikan huruf braille pada bagian tombolnya untuk memudahkan para tunanetra bermobilisasi di sebuah gedung bertingkat.

Kemudian masalah pekerjaan yang sangat sulit dimiliki oleh setiap penyandang keterbatasan fisik. Saya akan menindak tegas setiap perusahaan yang tidak bersedia menerima penyandang keterbatasan fisik untuk berkerja di perusahaannya. Bahkan saya akan meningkatkan kewajiban setiap perusahaan untuk mempekerjakan para penyandang keterbatasan fisik paling sedikitnya 25% dari total keseluruhan pegawainya.

Masala sosialisasi, saya akan melobi semua stasiun televisi untuk sering menayangkan iklan atau berita tentang bagaimana kita sebagai masyarakat umum memperlakukan para penyandang keterbatasan fisik. Bagaimana cara menolong para penyandang keterbatasan fisik ketika mereka sebenarnya membutuhkan pertolongan kita tetapi karena keterbatasan yang mereka miliki seolah-olah mereka tidak membutuhkannya dan seharusnya kita yang selalu mempunyai inisiatif untuk segera menolong mereka. Dan mensosialisasikan bahwa penyandang keterbatasan fisik itu bukan seseorang yang merepotkan atau menyusahkan. Tapi harus disadari oleh masyarakat luas untuk sama-sama saling tolong-menolong sesama umat manusia. Apa lagi mengingat kita ini adalah orang-orang yang terkenal dengan ramah tamahnya, gotong royongnya dan sopan santunnya.

Dalam hal pendidikan saya juga akan mensosialisasikan kepada seluruh sekolah umum di seluruh Indonesia bahwa penyandang keterbatasan fisik itu mempunyai hak yang sama dalam memperoleh hak pendidikan dan pengajaran. Kapanpun dan dimanapun mereka berada. Bagi sekolah umum yang tidak bersedia menerima para penyandang keterbatasan fisik, maka sanksi yang akan diberikan dari pemerintah cukup berat. Seperti, peneguran kepada pihak sekolah sampai pemberhentian kegiatan belajar mengajar di dalam sekolah tersebut. Karena tindakan yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah merupakan pelanggaran hak azasi memperoleh pendidikan layak yang dimiliki oleh setiap manusia, tidak terkecuali para penyandang keterbatasan fisik.

Dari beberapa wacana yang telah dipaparkan di atas, jadi sangat kurang bijaklah jika kita sampai saat ini menganggap kemampuan penyandang keterbatasan fisik itu terbatas sesuai dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya. Justru mereka menganggap keterbatasan fisik itu sebagai sebuah tantangan bukan sebagai sebuah kendala besar dalam hidup. Timbulah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh penyandang keterbatasan fisik tersebut yang belum tentu dimiliki juga oleh orang-orang normal. Sekaranglah saatnya kita rubah pola fikir kita tentang para penyandang keterbatasan fisik. Jangan pernah melihat sesuatu dari apa yang menyelimutinya tetapi lihat segala sesuatu itu dari apa yang diselimutinya. Karena sesuatu yang kita anggap tidak sempurna bisa saja memiliki kesempurnaan yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Bahkan mungkin saja kesempurnaan yang kita miliki belum tentu sebanding dengan kesempurnaan yang mereka miliki. (RA)

*Tulisan pernah diterbitkan pada rubrik halaman muda Media Indonesia tahun 2008

Apa Itu Kartunet.com?

Apa itu kartunet.com?

Oleh Aris Yohanes
Salah satu admin Kartunet.com
Email : aris-yohanes@kartunet.com

Seiring dengan terus berkembangnya teknologi informasi, membuat pemikiran warga dunia semakin terbuka. Mereka bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan bumi yang lain dengan hanya sekali klik di media yang bernama internet. Hal ini juga tidak melewatkan para tunanetra untuk turut serta aktif dalam perkembangan teknologi. Dengan adanya computer yang dilengkapi program pembaca layer atau screen reader, para tunanetra bisa mengakses internet bahkan membuat sebuah website professional.

Kartunet.com adalah sebuah website yang benar-benar dibuat dan dikembangkan oleh tunanetra. Kartunet adalah singkatan dari “karya Tunanetra”. Hal ini memiliki arti pendirian awal website dilakukan oleh para tunanetra. Tapi dalam pengembangannya bisa diturutsertakan siapa saja dan juga dapat dikunjungi oleh siapapun baik tunanetra atau orang normal. Website ini tidak hanya mengutamakan kemudahan bagi tunanetra dengan program pembaca layarnya, tapi juga keserasian design visual yang juga nikmat untuk dilihat bagi orang normal pada umumnya. Tidak perlu program khusus atau peraturan lainnya untuk mengunjunginya, hanya klik di http://www.kartunet.com dan siaplah website ini untuk anda jelajahi.

Mulai berdiri dan eksis di dunia cyber pada tanggal 19 Januari 2006, Kartunet.com memiliki visi dan misi yang seperti terdapat pada halaman tentang situs tersebut.

“Kartunet.com lahir atas kesadaraan kami untuk membuat pandangan baru kepada dunia terhadap tunanetra. Ide ini tercetus karena kami mengamati bahwa tunanetra mempunyai bakat-bakat terpendam yang belum tersalur. Oleh karena itu, kami terdorong untuk mendirikan website yang dapat digunakan sebagai media publikasi terhadap karya-karya mereka.”

Website ini memang dibuat sebagai media sosialisasi kepada masyarakat luas bahwa tunanetra juga bagian dari mereka dan bisa melakukan hal-hal yang mereka juga bisa lakukan. Tunanetra bukan makhluk yang harus disisihkan, dibelaskasihani, atau dianggap tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi para tunanetra ini adalah sama seperti manusia lain yang memiliki hak dan kewajiban. Mereka tidak menuntut perlakuan yang istimewa karena kekurangan yang mereka miliki, tetapi berikanlah persamaan hak sehingga dengan keterbatasan mereka bisa menunjukan kelebihan yang Tuhan berikan kepada hamba-hambaNya. Seperti moto situs kartunet.com yaitu “Mengatasi Keterbatasan Tanpa Batas”

Kartunet.com adalah website independent yang tidak berafiliasi dengan lembaga sosial atau komersial apapun. Kami benar-benar mengelola situs ini secara mandiri, tanpa ada intervensi atau dibawah naungan lembaga atau institusi tertentu. Sumber pendanaan situs selama ini berasal dari kantong masing-masing pengurus. Walaupun kami juga bersedia menerima donasi dari para dermawan yang peduli terhadap pengembangan situs ini. Baik itu berupa bantuan finansial, ide, atau ilmu yang bermanfaat bagi pengembangan website.

Konten dari kartunet.com adalah berbagai karya sastra baik itu cerpen, puisi, esei, cerita bersambung, dan cerita lucu. Karya-karya tersebut bukan hanya buatan para tunanetra, tapi juga berasal dari kiriman para pengunjung kartunet.com yang sebagian besar merupakan orang normal. Selain karya sastra, kartunet.com juga menerbitkan artikel-artikel dari para pengunjung situs. Kategorinya terdiri dari Politik, Ekonomi, Sosial dan budaya, Seni dan musik, pendidikan, serta info kecacatan. Adapun fasilitas terbaru dari kartunet.com adalah Forum Diskusi. Dengan alamat forum di http://www.forum.kartunet.com, anda bisa berdiskusi dengan sesama pengunjung kartunet.com baik mengenai Iptek, Sastra, Musik, Komputer, Isu Kecacatan, dan semua hal mengenai kartunet.

Pada awalnya, kartunet.com ini didirikan oleh empat orang yaitu Irawan Mulyanto, Dimas Prasetyo M, Aris Yohanes, dan M Ikhwan Toriqo. Mereka ini adalah sekelompok kecil tunanetra yang dengan satu tujuan yaitu membuat kehidupan tunanetra lebih baik, menggagas akan terbentuknya website ini. Mereka semua berstatus tunanetra. Di sini perlu diinformasikan bahwa tunanetra tidak harus kehilangan penglihatan 100% yang disebut buta total. Tapi juga ada yang masih memiliki sisa penglihatan 20% atau 40 % misalnya yang disebut low vision atau penglihatan terbatas.

Irawan Mulyanto adalah pemimpin atau leader dalam situs kartunet.com. Bertemu dengan pendiri kartunet.com yang lainnya di sebuah even tunanetra, Ia menyampaikan cita-cita dan harapannya tentang kemajuan tunanetra. Beliau mengatakan bahwa tunanetra bisa mandiri, tunanetra juga memiliki hak yang sama dalam pendidikan dan pekerjaan, serta tunanetra juga bisa mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa belas kasihan dari orang lain. Oleh karena itu, pria yang biasa disapa Iwa ini menyarankan kepada pendiri kartunet yang lainnya untuk membuat sebuah website. “Kalian kan sudah punya website pribadi masing-masing, sekarang bagaimana kalau kalian coba membuat sebuah website yang memiliki satu tujuan. Karena satu lidi tidak akan berarti tanpa diikat dengan lidi lainnya” jelas mas Iwa yang sekarang bekerja sebagai salah satu karyawan di Metro TV. Begitulah mas Iwa, yang walaupun belum lancar mengoperasikan komputer bicara (Sebuah komputer biasa bisa berupa laptop atau pc yang sudah di lengkapi dengan software pembaca layar atau screen reader) karena mengalami kebutaan sejak umur 26 tahun, tapi bisa menggerakkan pendiri kartunet yang lain untuk mencoba merealisasikan mimpinya.

Dimas Prasetyo M yang biasa dipanggil Dimas ini, berperan sebagai editor pada awal pendirian situs kartunet.com. Tugas editor di situs kartunet adalah memastikan kata-kata yang tepat untuk dipergunakan dalam halaman website dan menyaring karya atau artikel yang masuk untuk dipublikasikan. Mahasiswa sastra Inggris Universitas Indonesia ini memiliki hobi mengoperasikan komputer, menjelajah internet, dan menulis cerpen. Seperti pendiri kartunet yang lain, Ia sudah memiliki blog pribadi yang masih dikelolanya sampai sekarang.

Aris Yohanes yang biasa disapa Aris, berperan sebagai programmer di situs kartunet.com. Ia sangat gemar dalam dunia komputer terutama kode-kode pemrograman termasuk bahasa web programming seperti PHP, ASP, HTML, dan lain-lain. Aris sekarang sudah bekerja sebagai web maintainance di sebuah yayasan tunanetra. Walaupun memiliki kesibukan sendiri, alumnus SMA Negeri 66 Jakarta ini tetap berkomitmen demi kemajuan situs kartunet.com

M Ikhwan Toriqo yang memiliki nama panggilan Riqo bertugas sebagai designer dalam kartunet.com. Ia adalah seorang low vision yang masih memiliki sisa penglihatan. Jadi bisa diserahi amanat untuk mengurus tampilan visual situs. Mahasiswa Sastra Inggris UPI Bandung ini mempunyai bakat dibidang sastra yang besar. Ia sering membuat karya-karya seperti cerpen dan puisi yang pastinya diterbitkan juga di kartunet.com

Selama perjalanan situs yang sudah mencapai waktu dua tahun, pengurus kartunet.com bertambah. Yaitu dengan kehadiran Satrio dan Rafik Akbar. Satrio adalah mahasiswa Sastra Arab tingkat akhir di Universitas Negeri Jakarta. Sedangkan Rafik Akbar adalah mahasiswa Pendidikan Agama Islam di UIN Jakarta. Mereka berdua bertugas sebagai editor menggantikan tugas Dimas yang beralih di bagian maintenance.

Para pengurus kartunet.com melakukan tugas tidak dalam satu ruangan khusus atau tempat tertentu. Mereka melakukan tugas masing-masing di komputer masing-masing pula dengan koneksi internet handphone atau sumber lainnya. Mereka sangat jarang sekali berkumpul bersama untuk mengurusi website, karena kartunet.com adalah community on the web yang belum memiliki base camp. Jadi pekerjaan mereka dilakukan masing-masing dan saling lengkap-melengkapi kewajiban satu sama lain. Walaupun seperti itu, kami juga terus berusaha agar memiliki base camp dan bisa menjadi sebuah organisasi yang mewadahi segala kreativitas tunanetra.

Kita sudah mengetahui latar belakang didirikannya website ini serta orang-orang dibaliknya. Tapi apakah tujuan sebenarnya dari website ini?

Website ini pada intinya bertujuan untuk membuat kehidupan tunanetra menjadi lebih baik. Mereka juga bermaksud agar masyarakat faham tentang apa dan bagaimana tunanetra beraktivitas serta berinteraksi dalam masyarakat. Tujuan situs kartunet.com terdapat dalam halaman tentang di situs tersebut.

“Dengan adanya KARTUNET.Com, kami berharap bakat-bakat tunanetra bisa tersalur dalam potensi yang mereka miliki. Mungkin kami juga bisa menjadikan mereka penulis, komposer music, bahkan instruktur komputer. Kami berharap agar kami bisa membuat lapangan kerja tambahan untuk mereka. Tapi cita-cita kami ini tidak akan terwujut tanpa bantuan dan masukan dari para pengunjung situs kartunet.com”

Dalam tujuan didirikannya kartunet.com, jelas bahwa inti permasalahan yang dihadapi oleh tunanetra adalah penghidupan yang layak dan adanya lapangan kerja yang memadai bagi mereka. Selama ini banyak perusahaan atau instansi tertentu yang menolak pekerja dari kalangan tunanetra. Dengan alasan bahwa tidak ada fasilitas untuk mereka dan mungkin hanya akan membuat pihak perusahaan rugi karena memperkerjakan orang yang tidak berkompeten. Anggapan ini coba disanggah oleh para pendiri situs kartunet.com. Hal ini ditunjukan dengan salah satu kemampuan yang mereka miliki. Yaitu eksisnya situs kartunet.com di belantara internet dari jutaan situs lainnya.

Harapan pengurus kartunet untuk kartunet.com ke depan adalah agar website ini lebih populer dan banyak yang mengunjungi. Sehingga tujuan kartunet untuk bersosialisasi dan melayani masyarakat bisa terpenuhi. Kami juga akan terus mengengbangkan feature-feature website ini sehingga benar-benar menarik dan memiliki sesuatu yang unik dalam dunia cyber. Dalam jangka panjang, Kartunet.com menargetkan website disajikan dalam tiga bahasa. Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang. Sehingga website ini dapat diakses oleh semua orang di seluruh pelosok dunia.

Pada akhirnya, kartunet berharap bagi pemerintah, pihak penyedia lapangan kerja, masyarakat, dan semua pihak melihat dan mengetahui bahwa inilah kami Tunanetra. Kami eksis di dunia ini dan bisa melakukan apa yang orang normal juga bisa lakukan walaupun dengan cara lain. Mereka harus terbuka, sehingga bisa memberikan hak para tunanetra yang sama dengan mereka. Persamaan dalam bidang pendidikan, lapangan pekerjaan, dan pengakuan sosial dalam masyarakat. Kami para tunanetra tidak akan menyerah dengan keadaan. Selalu berusaha untuk membuat semuanya lebih baik. Tak akan berhenti berjuang karena moto kami adalah “Mengatasi Keterbatasan tanpa Batas”.

*Tulisan pernah di terbitkan pada harian Media Indonesia tahun 2008

Irawan Mulyanto di Perspektif Baru

Irawan Mulyanto
Website Karya Tuna Netra

Edisi 596 | 13 Aug 2007 |

Selamat berjumpa kembali pembaca dan penyayang rubrik Perspektif Baru. Mudah-mudahan minggu-minggu Anda merupakan minggu-minggu yang menyenangkan. Anda
kini bersama saya Faisol Riza, pembawa acara Perspektif Baru, yang kali ini akan membicarakan tema agak lain yaitu sesuatu yang kalau kita rasakan dan
sadari akan sangat penting. Tamu kita adalah Irawan Mulyanto yang akrab dipanggil Bang Iwa, seorang yang memiliki keterbatasan fisik yang biasa orang menyebutnya
sebagai tuna netra. Dia sekarang aktif sebagai pengelola website bernama kartunet.com yang merupakan kepanjangan dari karya tuna netra dot com.

Menurut Irawan Mulyanto, kehadiran website kartunet.com sebagai salah satu bukti bahwa tuna netra juga mampu bekerja seperti orang yang tidak memiliki keterbatasan
fisik. Kehadiran website ini juga untuk mencoba membuka kesempatan kerja untuk teman-teman terutama tuna netra.

Irawan mengatakan peluang kerja merupakan salah satu persoalan utama bagi teman-teman tuna netra. Banyak peluang kerja yang tertutup begitu mengetahui yang
bersangkutan tuna netra. Jadi peluang kerja yang bisa dmasuki sedikit sekali. Selama ini bidang kerja untuk tuna netra, maaf, kalau tidak mengemis, memijat.
Cuma dua itu. Padahal mereka bisa juga menjadi operator, english trainer dan public relations officer. Kalau masyarakat berpikiran terbuka dan berbesar
hati untuk menerima teman-teman tuna netra, mereka sebisa mungkin tidak akan mengecewakan.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Irawan Mulyanto.

Tolong Anda cerita awal mula website kartunet.com?

Awalnya karena banyak orang tidak percaya bahwa tuna netra bisa, kemudian banyak teman-teman mempunyai website sendiri-sendiri dengan memakai nama mereka
masing-masing. Malah teman saya mengatakan saya satu-satunya tuna netra yang mempunyai e-mail dan Friendster. Saya mengatakan tidak tapi dia tidak percaya.
Karena itu saya coba ungkapkan ide ini kepada teman-teman untuk membuat website bersama-sama. Mereka percaya dan mau. Akhirnya terwujud website tersebut
dan berjalan sampai sekarang dengan segala daya dan upaya kami untuk membuatnya tetap berjalan.

Tujuan awalnya barangkali adalah membuktikan bahwa Anda dan kawan-kawan mampu. Sekarang setelah sekian lama berjalan, apa yang menjadi tujuan berikutnya
dari website ini?

Kami mencoba membuka kesempatan kerja untuk teman-teman karena seorang teman kami saat ini bisa bekerja di bagian teknologi informasi (TI) di salah satu
yayasan tuna netra di Jakarta. Padahal dia baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dan masih bekerja paruh waktu. Ini sebuah kesempatan besar buat kami.
Mudah-mudahan bisa membuka peluang kesempatan kerja buat yang lain

Apakah selama ini tidak banyak peluang kesempatan kerja di tempat lain untuk Anda dan teman-teman?

Banyak, tapi banyak juga yang tertutup begitu mereka tahu bahwa kita tuna netra. Jadi peluang kerja yang bisa kami masuki sedikit sekali.

Apakah mereka menolak karena alasan tuna netra atau karena ketidakmampuan?

Secara tidak langsung mungkin tuna netra dianggap akan merepotkan, tapi sebenarnya yang kita coba untuk terobos masuk adalah pekerjaan yang memungkinkan.
Selama ini bidang kerja untuk tuna netra, maaf, kalau tidak mengemis, memijat. Cuma dua itu. Padahal kami bisa menjadi operator, ada teman yang bekerja
di bagian sumber daya manusia (SDM), english trainer di salah satu hotel, financia/ accounting dan yang paling akhir ada yang menjadi public relations
officer. Jadi sebenarnya peluang kerja kaum tuna netra luas kalau diberi kesempatan, kalau semua pihak berpikiran terbuka dan berbesar hati untuk menerima
kami. Kami sebisa mungkin tidak akan mengecewakan.

Ini menarik sekali karena selama ini bayangan orang adalah tidak banyak lapangan pekerjaan yang bisa dimasuki oleh teman-teman tuna netra. Namun yang Anda
sampaikan tadi betul-betul seperti melewati batas ketidakmampuan mereka dan bisa seperti orang pada umumnya. Sayangnya ini tampaknya masih informasi terbatas.
Apakah pemerintah atau lembaga-lembaga yang semestinya mempunyai tanggung jawab terhadap ketenagakerjaan mempunya perhatian terhadap masalah teman-teman
tuna netra ini?

Perhatian masih ada. Sebenarnya ada undang-undang (UU) Nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat yang menyebutkan 1% dari total karyawan diperuntukkan
untuk penyandang cacat. Sekarang sedang trend program Corporate Social Responsibility (CSR), tapi rata-rata mereka lebih tertarik memberikan bantuan dana
bukan kesempatan. Mereka lebih suka memberikan ikannya daripada memberi kailnya.

Apakah ada cerita-cerita dari teman-teman yang pada akhirnya bisa mengatakan bahwa kemampuan itu tidak harus dibatasi oleh fisik? Misalnya, bagaimana Anda
mengelola website karena sudah tentu tidak gampang terkait ada tampilan, gambar dan sebagainya sementara teman-teman mempunyai keterbatasan penglihatan?

Betul sekali mas, pada dasarnya mengelola website membutuhkan penglihatan, sedangkan yang mengerjakan adalah teman-teman kami yang berada dalam tahapan
low vision, mempunyai penglihatan tapi terbatas. Jadi sebisa mungkin dikerjakan sendiri tapi memang masih kurang memuaskan untuk konsumsi orang yang tidak
mempunyai keterbatasan penglihatan. Untuk orang yang tidak bisa melihat kami menyebutnya tuna netra sehingga butuh bantuan orang lain untuk bertanya dalam
mengelola website seperti, "Apakah warnanya sudah cocok atau belum?" Jadi kami mengerjakannya hanya dengan bantuan suara.

Jadi pada dasarnya kemampuan teman-teman dengan orang lain sama, pada umumnya hanya masalah kesempatan saja yang diberikan sangat terbatas. Apakah saat
ini ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang juga mempunyai perhatian terhadap masalah Anda dan teman-teman tadi? Bagaimana selama ini peran LSM terhadap
potensi yang sedang berkembang ini?

Ada beberapa LSM, seperti Yayasan Mitra Netra yang memberikan pelatihan komputer, mengetik, bahasa Inggris. Ada juga Himpunan Pelaku Seni Diferensia Indonesia
(HIPSDI) yang melakukan pelatihan seni. Mereka sempat mengadakan acara kompetisi dengan peserta para penyandang cacat semacam Indonesian Idol atau AFI.
Kebetulan waktu itu dari 10 peserta hanya satu orang yang tuna cacat, sisanya tuna netra. Kegiatan itu digelar satu atau dua tahun yang lalu, Tapi kegiatan
tersebut tidak berlanjut karena susahnya mencari sponsor. Jadi banyak yang hanya memberikan pelatihan namun masih kurang yang menyediakan pekerjaan .

Semoga ini dibaca oleh para pejabat pemerintah karena saya kira ini bukan masalah besar dibandingkan dengan masalah kemiskinan dan korupsi. Jadi semestinya
masalah ini bisa diatasi dengan cepat. Kalau dari cerita zaman dulu, termasuk pengalaman saya, orang yang mempunyai kekurangan kadang-kadang disisihkan.
Apakah itu juga dialami oleh teman-teman?

Ada banyak yang seperti itu. Padahal keterbatasan penglihatan membuat kita tidak bisa kemana-mana. Misalnya, kita tuna netra tidak bisa kemana-mana saat
istirahat kerja, sedangkan mereka yang tidak memiliki keterbatasan seharusnya istirahat 60 menit bisa menjadi lebih 60 menit.

Apakah dalam hal ini termasuk keluarganya juga kadang-kadang ikut menyisihkan?

Ada sebagian teman tuna netra yang mengalami hal-hal seperti itu karena keluarga mereka pada awalnya over protective. Mereka tidak mau melihat anggota keluarganya
menderita, tapi efek yang ditimbulkannya malah kebalikan dari rasa sayang

Nah pandangan masyarakat tersebut barangkali yang harus kita ubah. Apa saran atau pendapat Anda terhadap pandangan masyarakat yang seperti itu?

Kami sebenarnya tidak ingin dipandang sebagai beban. Kami ingin dipandang sebagai mitra, partner, rekan kerja yang sama. Kalau berdiri sama tinggi, duduk
sama rendah. Mungkin mudah diucapkan, tapi kita perlu bekerja dua atau tiga kali lebih keras daripada mereka. Itu kadang-kadang belum cukup memuaskan.
Kita ingin diterima dengan kemampuan kita tapi dengan satu penyesuaian, misalnya, kami tidak bisa menulis seperti biasa tapi menulis dengan huruf braille,
kami menggunakan komputer tidak dengan visual tapi dengan suara. Kadang-kadang itu membuat mereka merasa terbebani, karena harus menyediakan beragam fasilitas
ini dan itu. Kita harus menyediakan sendiri tidak apa-apa. Kita terlalu naif juga kalau selalu meminta mereka untuk terus bersabar, seolah menyalahkan
mereka. Tapi mungkin juga sebenarnya mereka ingin membantu, namun tidak tahu bagaimana caranya. Mereka takut bertanya karena takut menyinggung atau menyakiti
perasaan kami. Sebenarnya tanyakan saja apa yang mereka ingin tahu.

Problemnya mungkin adalah komunikasi antara masyarakat dan teman-teman. Barangkali masyarakat perlu disampaikan informasi yang lebih banyak lagi mengenai
banyak orang yang mempunyai keterbatasan tapi memiliki kemampuan yang hebat seperti Stephen Hawking, seorang yang tidak bisa berjalan dan bicara tapi penemu
yang hebat. Informasi semacam ini penting sekali. Jadi kalau teman-teman mempunyai informasi seperti ini perlu disampaikan kepada masyarakat. Bagaimana
pendapat Anda?

Menurut saya betul. Banyak yang berpikir seperti tadi, yaitu apa sih yang bisa dikerjakan para penyandang cacat. Di website kartunet.com, kami mengatakan
mengatasi keterbatasan tanpa batas. Di sini tanpa batas kecacatannya, tanpa batas yang membatasi. Ini karena banyak teman-teman tuna netra yang berbisnis
jual beli untuk bisa menghidupi dirinya sendiri. Mereka usaha jual beli mobil bekas, membuka biro jasa layanan pengurusan surat tanda nomor kendaraan (STNK),
perbaikan elektronik. Tapi tetap masih banyak yang tidak percaya karena seeing is believing. Kalau belum melihat belum percaya.

Sejauh ini, banyak juga lembaga-lembaga dunia yang mempunyai perhatian terhadap kelompok masyarakat yang disebut kelompok masyarakat rentan, perempuan,
orang lanjut usia dan juga tuna netra. Apakah itu membantu atau tidak terhadap upaya teman-teman untuk eksis sebagai satu kelompok di dalam masyarakat
pada umumnya?

Kalau LSM yang sudah besar untuk tuna netra sepertinya membantu. Jujur saja kami mendapat pelatihan-pelatihan juga karena perhatian pihak LSM. Banyak sekali
pelatihan atau peralatan-peralatan yang dibantu oleh pihak luar. Sementara pemerintah kita kurang memberikan perhatian. Kalau saya berkunjung ke yayasan
tertentu, saya melihat ini alat-alat dari yayasan tersebut kayaknya bukan dari dalam negeri karena namanya asing semua, alamatnya jauh, dan nomor teleponnya
internasional.

Dari pengalaman Anda bekerja selama ini, apakah sebenarnya sulit atau tidak mengerjakan tugas yang diberikan? Apakah ada konflik atau tidak yang muncul
dalam hubungan kerja selama ini karena orang menggangap ada keterbatasan pada diri Anda?

Kami sebenarnya bisa mengerjakan namun mungkin untuk mempelajarinya membutuhkan waktu lebih lama karena kami hanya mengandalkan peraba. Pada awalnya kita
juga bertanya-tanya, sementara teman bisa melihat gambar sehingga bisa membuat skema untuk mengerjakannya. Kita butuh toleransi dari masyarakat, kesempatan
untuk membuktikan bahwa kami mampu, kami bisa, kami tidak akan mengecewakan sejauh apa yang bisa kami kerjakan.

Apa yang dilakukan Departemen Sosial terhadap teman-teman tuna netra selama ini?

Departemen Sosial menyediakan balai pelatihan ketrampilan untuk tuna netra dan terakhir Departemen Sosial menerima beberapa teman tuna netra sebagai karyawan.
Salah satunya teman kerja saya satu kantor mengikuti ujian calon pegawai negeri sipil (CPNS). Alhamdullilah berhasil lulus. Ada lagi beberapa teman lainnya
di Jakarta dan beberapa kota lain misalnya Bandung. Selain itu ada juga beberapa departemen lainnya seperti Departemen Agama yang juga menerima beberapa
teman tuna netra. Itu adalah awal yang bagus, mudah-mudahan tidak berhenti.

Tapi barangkali itu sesuatu yang bisa dibuat juga oleh orang lain. Yang lebih penting adalah soal kebijakan pemerintah yang menyangkut masyarakat pada umumnya.
Misalnya, semua departemen harus menerima sekian persen karyawan yang memiliki keterbatasan fisik. Menurut teman-teman tuna netra, apa yang bisa dengan
cepat mengatasi masalah keterbatasan lapangan pekerjaan ini?

Sebenarnya kalau pemerintah mau bisa membuat kebijakan berupa departemen dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menyerap tenaga kerja dari penyandang cacat.
Itu sudah cukup membantu. Apalagi kalau pihak swasta atau lembaga lainnya mau melakukan hal yang sama. Itu akan sangat membantu memberikan kesempatan kepada
kami untuk bekerja karena bekerja tidak hanya berpenghasilan tapi juga menyangkut harga diri, artinya kami tidak menjadi seorang pengganguran.

Apakah selama ini pemerintah tidak melakukan hal itu?

Rasanya kurang.

Di luar lapangan pekerjaan, apa yang seharusnya juga menjadi perhatian pemerintah?

Pendidikan. Untuk masuk sekolah, beberapa teman penyandang cacat misalnya tuna netra mengalami kesulitan. Ada beberapa yang keberatan, ada yang terang-terangan,
ada yang tersamar.

Apakah syarat-syarat itu masih ada seperti untuk masuk kuliah?

Ada. tahun lalu seorang teman mau masuk ke salah satu perguruan tinggi untuk mengambil jurusan seni musik. Ada satu tes yang tidak mungkin dilewati yaitu
tes buta warna, sementara dia buta warna. Sebenarnya apa hubungannya antara musik dan buta warna. Sementara kita bisa bermain gitar sambil memenjamkan
mata, menikmati lagu tanpa penerangan sedikit pun.

Dikutip dari perspektifbaru.com

Friday, February 08, 2008

Cerita Tentang Kartunet

Kartunet dibentuk oleh 4 orang tunanetra, 3 sebagai pelaksana IT dan 1 sebagai leader dan promotor. Keempat orang itu adalah aris yohanes (Programmer yang menangani masalah coding dan penambahan fasilitas baru), M. ikhwan toriqo (Desainer yang menangani masalah tampilan), dimas (Editor yang melakukan editing terhadap artikel dan karya sastra yang masuk dan tulisan di kartunet), dan irawan mulyanto (Leader and promotor).

Tujuan dibentuk kartunet ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada gebrakan baru dari tunanetra dibidang tegnologi. Selain itu, dengan adanya pembuktian ini, diharapkan lapangan kerjapun terbuka luas untuk tunanetra sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Awal mulanya, aris kenal dengan mas irawan atau lebih akrab dengan sebutan "iwa", kemudian aris mengenalkan iwa kepada riqo. Dari perkenalan itulah, iwa mendapat banyak informasi mengenai aris dan riqo. Sehingga dia salut, dan memberikan ide cermelangnya, katanya "Kenapa kalian gak membuat sesuatu hal dalam bidang IT? Misalnya membuat program (software) gitu?" "Penginnya sih wa, tapi kita takut buat yang semacam itu, karena kite ini ngerasa kalau kite belum jago" "Ya harus cobalah! Nah, gw punya ide lagi nih, gimana kalau kalian membuat suatu karya yang dapat di nikmati oleh banyak orang?" "hmmmmm,, ape ya?" fikir aris. Seiring jalannya waktu, aris akhirnya browsing ke sana-sini, googling sampai "Pantat tepos", dan akhirnya mendapat sebuah ilmu baru dalam IT. Ilmu itu adalah HTML (hiper text markup language). HTML adalah sebuah scripting language (dalam istilah komputer) yang dapat mengatur layout dari contents dalam browser. Ketika mendapat ilmu itu, lalu aris mempratikkan untuk membuat sebuah tampilan HTML sederhana. Ketika berhasil, wuuu, senengnya bukan main. Kemudian aris mengajarkan kepada riqo apa yang telah didapat. Ternyata riqo memiliki antusiasme yang sangat tinggi terhadap pelajaran itu. Dalam sekejap, dia mampu menguasai HTML dengan baik. Lalu mereka berdua menjadi semangat. Berbagai buku HTMLpun dibeli, dari yang murah hingga yang mahal. Dengan bantuan scanner dan screan reader, mereka membaca buku-buku itu.

Dari keterangan dibuku-buku itu, mereka menjadi tahu, bahwa ada istilah baru yang mereka dapat. Istilah itu adalah "Website", "domain", "IP address", "www", "hompage", "hosting" dan "server". Berangkat dari pengetahuan itu, mereka coba googling mencari hosting geratisan. Akhirnya mereka menemukan sebuah site yang menyediakan tempat untuk mengupload file-file HTML dan dapat di akses dari seluruh dunia file-file tersebut. WWW.netfirms.com adalah sebuah inspirator dan motifator terkuat mereka untuk semakin mendalami website dan HTML.

Semangat semakin membawa mereka menuju pengatahuan lebih lanjut. Istilah site scripting language segera ada dalam kepala mereka. ASP (active server pages), PHP (hiper text pree prosessor, singkatan tak singkron dengan arti. dapat dilihat di www.php.net). Selain itu, client scripting language pun tak ketinggalan turut memenuhi kepala mereka. Javascript dan VBscript menuntun mereka mengarungi dunia maya yang luas. Dari semua pengetahuan itu, aris dan riqo kembali berbincang dengan iwa. "Wa, kite-kite udah bisa buat hompage sendiri. Salah satunya www.aris-tutorial-tutorial.netfirms.com" "o ya? Nah,,, gw punya ide lagi!!! gimana kalau kalian buat situs sendiri yang resmi (bukan situs gratisan alias numpang)?" "hmmmm, kayaknya ok juga tuh.." Kata aris. "Ayo qo!" "ok,, mari kita cari infonya". Setelah itu, mereka (aris dan riqo) berdebat mengenai site scripting language yang mana yang akan dipakai. Apakah PHP atau ASP. Jika PHP, adalah scripting language yang open source. Yang artinya program interpreternya bebas dimodifikasi oleh siapa saja yang bisa. Termasuk source script-script yang dibuat oleh web master. Sedangkan ASP adalah produk microsoft, yang berarti semua tidak bebas. Selain itu, bebas dan tidak bebas itu telah mempengaruhi harga. Server yang mendukung ASP jauh lebih mahal harga sewanya. Sedangkan php sangat murah dan terjangkau oleh kaum kecil. "Tapi ASP lebih enak dipelajari dan gak rebet-rebet amat." Kata aris. "Itu karena elu menguasai visual basic. Yang mana struktur pengkodeannya mirip dengan ASP itu. Sedangkan PHP menurut gw,, jauh lebih gampang. Karena mirip dengan javascript dalam hal melakukan coding. Selain itu, server yang mendukung PHP harganya jauh lebih murah bokkk!!!" "Hmmmm,, ok deh, gw coba PHP." Akhirnya, mereka mendapat sebuah hosting provider dan segera memesan sebuah hosting sebesar 30 mega byte dan sebuah domain. Namun pada tahap ini mereka kembali berdiskusi dengan iwa. "Wa, kira-kira nama domain kita nanti apa ya? Hmmm,, gimana kalau www.2net.com." "Ape tuh?" "Singkatan dari tunanetra 2 dibaca sebagai (tu)" "hmmm boleh juga tuh." Kemudian mereka juga mendiskusikan mengenai hal biaya. "Trus wa, setelah didata, kita harus mengeluarkan duit sebesar 85 ribu buat domain dan 90 ribu untuk hosting sebesar 30 mega untuk masa sewa 6 bulan. Gmn kalau begitu?" "hmmmm" "Kayaknya kita gak bisa kalau cuma bertiga deh wa,, terlalu berat. Soalnya kite-kite masih sekolah." "Ok, lalu siapa yang tepat?" "Kayaknya dimas memenuhi kualifikasi deh wa." Aris mengusulkan. "anaknya pintar, cepat ngerti, and dia jago office. Ya,, walaupun dia gak ada hubungannya dengan internet, tapi dia akan mudah mengikuti." "Ok, boleh aja." Akhirnya dengan kesepakatan bulat, Mereka menghubungi dimas prasetyo muharam. Yang lebih mengembirakan lagi, ternyata dimas setuju. Selain itu dia juga ternyata telah mempelajari html. Jadi genaplah 4 orang. Kemudian mereka mendiskusikan mengenai berapa-berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh masing-masing. "ok, gimana kalau 25 ribu perorang?" Kata riqo. "Lalu sisanya yang 65 ribu?" "Itu nenek gw yang mau ngebantu." "Hore!!!" mereka bersorak. Ucapan syukurpun segera terlontar kepada yang Maha Kuasa. Akhirnya mereka melanjutkan pemesanan hosting dan domain. Namun sedikit kendala menghadang mereka lagi. "Wa,, ternyata www.2net.com telah ada yang memesan" "wah!! apa lagi dong?? hmmm,,," iwa berfikir. "Gimana kalau Kartunet!" Teriak iwa. "ape tuh?" mereka bertanya. "Karya tunanetra. Karena kita yang ngebentuk situs ini. kita para tunanetra. Jadi situs ini adalah buatan tunanetra untuk semua orang (Dari tunanetra untuk semua)." "ok, kayaknya ini lebih ok!" Mereka setuju. Pemesananpun berlanjut dan halanganpun tidak ada lagi. Akhirnya tanggal 18 januari 2006 account kartunet.com diaktifkan oleh rumahweb (web hosting provider) dan tanggal 19 januarri mereka resmi menjadikan hari itu adalah hari pertama www.kartunet.com online dan dapat diakses dari seluruh dunia.

Setelah kartunet online, mereka kembali berbincang mengenai posisi yang tepat untuk mereka berempat. "Siapa yang jadi pemimpin kita?" Tanya riqo. "Iwa aja" kata aris. "Gw? Kalian percaya? Lebih baik jangan gwlah. Lagian gw gak bisa apa-apa dalam IT." "Wa, seorang pemimpin gak perlu tahu menau tentang hal-hal tekniskan? Kan sebagai pemimpin tugasnya memimpin dan memanage bawahannya. Selain itu, buat apa ada stap-stap? You hanya cukup tahu saja, namun bukan keharusan untuk menguasai." "Ok deh, gw terima." Maka, iwa sebagai pemimpin kartunet. Iwa sangat bersemangat, dia bukan hanya memimpin dan memberi ide-ide pengembangan, melainkan dia juga melakukan promosi kesemua orang. Melalui fasilitas kantor tempat dia bekerja, diteleponnya teman-temannya dan dipromosikkannya kartunet kepada semua penelpon. Hahaha, untung sibos gak tau. Kalau tau, dipecatlah dia... Kemudian aris sebagai programmer, riqo ditempatkan sebagai penata tampilan, dimas sebagai editor tulisan di kartunet.

Dalam proses mulai dari belajar html hingga terbentuknya kartunet, kami menggunakan komputer pc biasa, pentium 2, 3, dan 4 dengan software tambahan yang diberinama screen reader. Screen reader adalah software khusus pembaca layar, sebuah software yang digunakan untuk mendeteksi tulisan-tulisan yang ada di layar. Misal kita menekan huruf a pada keyboard, maka screen reader membaca "a" dalam ejaan inggris. Bukan itu saja, software ini mampu membaca perkata, per kalimat, dan seluruh halaman. Untuk lebih jelas mengenai screen reader, silahkan download programnya di www.freedomscientific.com setelah masuk ke situs itu, pilih jaws for windows. Sayangnya, software ini demo 40 menit, dan kalau beli harganya 1200 dolar. Anda tinggal download dan install. Gak perlu hardware tambahan, yang perlu adalah komputer dengan OS windows dan memiliki sound card.

Software pendukung lain yang kami gunakan adalah phptriad v1.1, untuk menjalankan script php sebelum diupload ke server. Notepad, sebuah program editor standar yang telah ada dalam windows untuk membentuk tag-tag html dan php code.
Kemudian koneksi internet. Koneksi internet ini kami gunakan kartu telepon cdma dan hp cdma sebagai modem. Warnet juga tak jarang kami rambah. Kemudian jika kami kepepet uang, kami mendatangi sebuah yayasan ketunanetraan yang memberikan fasilitas internet gratis, lalu kami googling dan upload data di sana.

Pada mulanya, tampilan kartunet masih sangat buruk, kami beberapa kali mengganti tampilan, dari yang buruk hingga yang lebih baik. Pada saat itu, kami belum bisa melakukan penyimpanan data ke dalam data base server, kemudian kami mendapat bantuan dari seorang pengunjung yang menawarkan sebuah content management system (CMS) yang sangat sederhana, sehingga dapat kami modifikasi dan kembangkan. CMS ini ternyata menggunakan data base mysql, sehingga mau tak mau kami berusaha keras menguasai mysql itu. Setelah kami mengerti apa dan bagaimana mengunakan mysql itu, barulah 100% script kartunet beralih menggunakan cms yang telah kami modifikasi dan kembangkan.

Dengan cms itu, tampilan kartunet semakin baik dalam hal tampilan dan penambahan fasilitas. Kami menyediakan fasilitas curhat bagi pengunjung, buku tamu, web link, search engine, ramalan bintang dan lain-lain. Detailnya bisa dilihat sendiri di www.kartunet.com.

Untuk search engine, Kami bekerja sama dengan google, dan mengikuti program google adsense. Program google adsense ini kami ikuti baru-baru saja, sekitar bulan januari 2008. Saat ini, kami senang, karena dari program google adsense ini ternyata telah menghasilkan dolar-dolar bagi kami.

Oleh Aris Yohanes
Salah satu admin kartunet.com
E-mail : aris-yohanes@kartunet.com